Rabu, Oktober 07, 2009

KENANGAN PUTIH ABU


Pagi yang hangat, udara segar berhembus dari pegunungan Ciremai membawa embun pagi, tanpa henti, tanpa mengenal lelah berjalan melewati setiap kehidupan di muka bumi cilimus, harum bunga edelweis yang turun dari puncak gunung dibawa angin terasa menyegarkan, matahari pagi sinarnya menerobos embun-embun jatuh mengenai dedaunan, bunga plamboyan merah merekah menutupi seluruh bagian pohon yang rindang didepan kelas SMA Necis, para siswa sudah berjemur di teras kelas sedari pagi sambil menanti jam masuk sekolah, bila menghadap ketimur pandangan mata dimanjakan oleh indahnya hamparan kebun ubi jalar yang tertata rapih seluas mata memandang,butiran-butiran air hujan sisa tadi malam yang disinari matahati berkilau-kilau diatas daun ubi jalar, bagaikan hamparan mutiara yang menutupi setiap inci dedaunan. Lorong halaman kelas yang terbentang dari timur ke barat lalu berujung di musola,siswa-siswi putih-abu berkerumun-kerumun disetiap tiang penyangga atap halaman, suara-suara gurauan remaja polos tanpa beban kehidupan terdengar indah nan mengesankan, canda-tawa, senda-gurau melengkapi indahnya siraman sinar matahari pagi, tak tercuali konstruksi gigi, semua ditebar dipagi ini, bibir direntang lebar-lebar memberi kesempatan gigi keluar menengok sinar matahari pagi,ada yang putih bersih, ada yang putih kusam, kuning jagung, ada pula yang kehitam-hitaman. Ada yang tertata rapih berbaris, ada pula yang ditata sembarangan tak beraturan.
Bel masuk berbunyi :"teeettt...teeettt...teeettt".Duduk dibangku kelas pagi ini terasa gembira, melihat wajah teman sekelas satu persatu, tidak ada yang berubah masih tetap seperti yang kemarin, wajah-wajah ceria yang memancarkan air muka kepolosan terlihat siap menghadapi pengajaran dari guru killer sekalipun. berbagai perangai dari yang manja, jinak-jinak mangkrem, judas, tengik,jahil, dungu, hiperaktif, semua dipentaskan pagi itu.
Keseragaman yang diciptakan oleh penguasa Negeri ini yang berbahan dasar militer membuat orang asing sulit untuk membedakan kemampuan diantara kami. Pakaian sama putih-abu, atributenya juga sama, dilengan baju kanan gambar buku dan kapas, dan dilengan baju kiri nama sekolah, didada kanan nama spesies yang bersangkutan.Akankah bisa dibedakan dari yang satu dengan yang lainnya ??, sulit rasanya selain kehafalan guru-guru pengajar kami yang menggeluti kami setiap hari. Bagi guru yang tidak fasih menghapal kemampuan dan tabiat kami, beliau dapat saja menggunakan cara-cara lama yang dikutip dari filosof berkarat Aristoteles, guru besar filsafat ortodok berasal dari negeri orang berkulit pucat, bahwa: "nilai IPK siswa SMA Necis berbanding lurus dengan luas keliling lubang celana panjang bagian bawah", "sedangkan kemampuan siswi SMA Necis berbanding lurus dengan jumlah panjang pakaian bawahnya".(pembaca bebas mentafsirkan filosofinya Aristatoan di atas).
KAMI MEMANG SAMA
Dari pakaian yang dikenakan, dari keceriaan dalam kebersamaan, dari kebebasan hati yang tanpa tendensi, dari kenaifan yang tidak disadari, kami memang sama.Dari kepanikan menghadapi guru yang killer, dari ketenangan menghadapi guru BP (bimbingan Prestasi) yang lebay, tidak berbeda.Pluralisme berbagai latar belakang kehidupan keluarga bukanlah menjadi sekat bagi kami dalam bertabi'at, ada anak Jaksa Penuntut Umum yang Ayahnya ditakuti para penjahat di seantero bumi Kuningan, kami tidak memperlakukannya istimewa.Ada saudara guru kami yang apabila beliau berkehendak, bisa saja kami dibuatnya seperti ikan asin dengan sedikit polesan pormalin ditubuh kami, itupun tidak membuat kami jadi rikuh.Perkara kami tidak sama dalam kepandaian ??, itu perkara lain. Ini merupakan pembelaan, bukan hanya sekedar pembenaran.he..he..he.
MENGENANG
Setelah dihitung-hitung, usia saya sekarang sudah suntuk. Tapi mudah-mudahan jangan dikirakan pikun jika saya sulit mengingat-ingat rangkaian kejadian masa silam, masa remaja kita di SMA Necis. Waktu saya coba bayangkan masa itu, gambarnya putus-putus dan mengabur. Mungkin karena tidak cukup berbakat mengembalikan ingatan masa itu yang sangat jauh jaraknya dari hari ini. Oleh karena itu saya tunda keinginan untuk berpikir, lalu menyerahkannya pada keperkasaan sang waktu yang tidak mungin bisa saya lawan, dan membenamkan akal pada kewenangannya.
Sekedar iseng-iseng saja saya mencari kenangan yang masih segar di ingatan saya, namun tak banyak yang bisa saya ingat. tujuan dari penulisan ini, saya hanya sedang merindukan masa itu, masa dimana saya merangkul kebahagiaan yang sejati, kenangan masa itu adalah harta yang tidak ternilai bagi saya, dimana saya tidak bisa menambah, mengganti, atau memperbaiki kenangannya. Saya tidak punya kemampuan untuk kembali ke masa lalu seperti Doraemon, tokoh film kartun dari negeri kamboja merah yang mempunyai mesin pemutar waktu,dengan mesin itu bisa melemparkan manusia kembali kemasa lalu............................

Baca Selengkapnya...

Senin, Oktober 05, 2009

ANDY TEMAN SEKAMARKU

Sore yang cerah, sebelah berat terlihat dengan jelas Gunung Ciremai tegak berdiri dengan kokohnya seolah jadi pelindung bagi warga Kuningan, aku bermain gundu dengan tiga temanku di pekarangan rumah kosanku yang halamannya luas hampir seper tiga lapangan sepak bola.
Andy Rusgandy teman seranjang denganku, kami kost dirumahnya Nunu yang tidak jauh dari sekolah SMA Necis, hanya berjarak 400 meter saja dari kampus kami. Andi bersal dari Luragung, dia satu sekolahan denganku namun kami tidak satu jurusan, Andy jurusan sosial sedangkan aku jurusan fisika.
Andy temanku yang berparas tampan, kulitnya putih walaupun sesungguhnya tidak terlalu bersih, tetapi sepintas terlihat bersih karena tertutupi oleh bagusnya warna kulit yang putih dan tidak pucat, tubuhnya tinggi kira-kira 172 cm. Ia punya kebiasaan buruk yang tidak dimiliki banyak orang, kegemarannya ngupil tak bisa berhenti, tidak suka mandi dan kebiasaan susah bangun pagi. Temanku yang satu ini sangat menyukai tidur, bermalas-malasan dan ia sangat menjauhkan dirinya dari olah raga, kalau berangkat sekolah cukuplah membasuh muka dan membasahi sedikit rambutnya ,sehingga rambut yang dipinggir mukanya saja yang tampak basah, sedangkan rambut bagian tengahnya masih tetap kering dan mengambang bila disisir.

Di sekolah dia banyak dikerumuni wanita, dua, tiga, bahkan 4 wanita yang sedang berbincang dengannya tiap kali aku melihatnya disekolah, tentu saja demikian karena dia laki-laki yang paling tampan disekolah SMA Necis angkatan '88. Terkadang aku iri padanya, pikiranku berbicara : "mengapa Tuhan tidak menukar saja parasnya dengan parasku barang sebulan saja
dalam setahun, tentu aku dapat merasakan bagaimana rasanya dikelilingi banyak perempuan, namun aakhh.. pikiranku kotor, berangan-angan sesuatu yang mustahil, ibarat si pungguk merindukan bulan, itu tidak masuk akal, kecuali kalau ada astronot yang bernama "Mr. Pungguk
".
Walaupun dia diberi karunia Tuhan dari parasnya yang tampan namun sesungguhnya tidak setimpal dengan nasib cintanya, Yeni namanya perempuan yang memikat hati Andy, Yeni bersal dari Kasturi rumahnya disamping masjid desa, hanya berselang satu rumah sebelah barat masjid. Sering kali Andy mengantarkan Yeni sampai jalan raya tempat pemberhentian mobil angkutan, itulah sebabnya kami sering tidak pulang bersama-sama sampai di rumah kosan, sebab dia punya proyek tersendiri, sedangkan aku hanya berpikir tentang periuk nasi yang sering terdahului si Diding sodaranya Nunu.

Tentu saja Andy tidak bisa mengantarkan Yeni sampai kerumahnya, karena Ibunya Yeni tidak menyukai kedekatan mereka, yang belakangan aku tahu bahwa Yeni telah dijodohkan dengan polisi muda yang juga masih kerabatnya.
Pernah suatu hari Andy mengantarkan Yeni sepulang sekolah sampai ke depan rumahnya, kebetulan kami akan pulang kerumah masing-masing dihari sabtu, Andy ingin sekali mengantarkan Yeni sampai rumahnya dan duduk barang sebentar dikursi rumahnya, lalu meneguk barang segelas air teh sambil menyapa ramah ibu bapaknya, itu obsesi Andy barangkali. Tetapi kenyataan tidak berpihak padanya, dewi portuna sedang tidak bersahabat denganya, barusaja kami bertiga turun dari angkot 05 jurusan Cirendang - Ancaran yang berhenti tepat didepan pintu halaman rumahYeni, kulihat ibunya sudah berdiri di pintu besi halam rumahnya, aku segera menyapa "Buu !!". Sambil merengkuhkan kepala meniru unta yang sedang berjalan dan dipunggungnya diberikan beban, yang apabila berjalan kepalanya manggut-manggut. Ibunya tidak membalas sapaanku, dengan muka yang diseram-seramkan lalu bibir ditarik kebelakan dan pipinya sedikit digelembungkan menirukan macan ompong sedang berkumur-kumur. Lalu dia meraih tangan Yeni dituntunya agak kasar kedalam melewati pintu pagar besinya, lalu dikuncinya kembali pintu pagar rumahnya, sejenak kami termangu bagaikan ayam pedaging mendengar bunyi keras petasan Mang Udi, tenggorokan dan leher kami tak bisa digerakan, segera dalam hatiku mengucap "walaa.kadallaaahhh, mampus siah". Aku memandang Andy dan mengajaknya tersenyum, tujuanku memberikan dukungan moril agar ia tidak memikirkan kejadian ini, tetapi rupanya dia masih belum siuman juga.

Senin pagi adalah hari yang paling tidak aku sukai, upacara bendera dan berjemur itu tidaklah jadi beban buatku, bahkan rajia anak Osis juga tidak membuatku takut atau risih, tetapi kalau sudah dipanggil kedepan barisan upacara karena menunggak SPP ber bulan-balan ?,. Nah.. ini !, ini yang membuatku malas mengikuti upacara bendera, aku malu oleh Susi Ratnawati '87 dan Evi . '87. Seandainya saja keduanya tidak masuk sekolah setiap hari senin, mungkin bukanlah halangan bagiku walaupun dijemur sampai sore dan setiap hari senin sekalipun, aku malah lebih senang dijemur daripada masuk kelas, ini memang tidak masuk akal.
Semenjak Pak Uci Sanusi mengajar di SMA Necis memang jadi ada kebijakan disiplin ketat, Pak Uci yang obsesinya masuk AKMIL (Akademi Militer) tidak terkabul dan Beliau melimpahkan obsesinya pada murid-muridnya di SMA Necis.

Endang Rahmat sebagai komandan upacara berteriak patah-patah menirukan militer dengan suara menggelegar memberi aba-aba kepada peserta upacara "siiiaaaaaaaapppp ggrrrrraaak" , aku segera berdo'a agar pembina upacaranya Pa Ahmad Kosasih guru agama, dialah yang bisa menghibur jantungku agar tidak berdegup terlalu kencang.
Akhirnya selamat juga pagi ini aku dari kejaran SPP dan atributte seragam sekolah yang warnanya seperti bungkus kue wajik.

Jam pelajaran pertama adalah fisika. Pa Dadang menerangkan teori fisika menirukan Albert Einstein, begawan fisika dari negeri antah berantah, kali ini beliau sedang menerangkan teori atom E = m.c2 dipapan tulis, pa Dadang adalah guruku yang paling tak acuh dengan kenakalan siswa, baginya yang penting pintar dan bisa menyelesaikan soal-soal, Ia lebih menekankan hasil akademik daripada disiplin militer, yang belakangan aku tahu beliau adalah sarjana dari institusi keguruan jurusan ilmu pasti, bukan dari institusi keguruan jurusan AKMIL, atau STPDN jurusan Jatinangor. (pada akhir sekolah, penulis diberi nilai fisika 7 di STTB).
Pa Dadang adalah sosok Guru yang (cowok banget), tinggi badannya kira-kira 168 cm, parasnya seperti orang timur tengah, jambang dan kumisnya tertata rapih sedangkan janggutnya selalu dicukur bersih. Beliau guru yang kalem dan berwibawa dan aku senang pelajaran fisika karena gurunya tidak pobia padaku dan Ahmad Sanuri.

Pa Dadang bukan termasuk pemburu aku, seperi Pa Nana (Evan) guru olah raga yang memberi nilai 4 pada STTB ku, bisa dibayangkan, aku yang notabene pemain andalan tim sepak bola SMA Necis, pemain andalan bola voli bersama Tion dan Fuad, juga pemain cadangan basket yang tak pernah diajak bertanding, aku hapal betul ukuran lapangan sepak bola, berat bola sepak, bola voli. Hanya saja aku tidak hapal tinggi badan Pa Nana (Evan). Mungkin itu yang menjadi pertimbangan bapa ini memberi nilai aku 4 di STTB.

Westerling van manecis yang bertubuh pendek ini telah menghancurkan cita-citaku jadi guru olah raga, aku tidak mungkin diterima di IKIP Bandung. Bagaikan Suhu Macan Akar dari perguruan silat tradisional yang ditakuti, dengan sorot mata dan gerak-geriknya yang selalu mencari sosok aku dan siap menerkamku.
"Baajjjjingaaaaannnnn..." itulah teriakan yang ditujukan padaku, yang kerap kali aku dengar dari mulutnya, yang seketika bisa berubah jadi drakulla (jurig import) atau monster black meke meke keluaran negeri bonsay. Ia telah menyandang seluruh gelar-gelar yang seram dariku berhubungan dengan tatacara lama seperti kompeni dalam merenepkan disiplin.
Pa Nana sangat berbeda dengan Pa Rasim, Darwin sejati yang apabila mengucapkan "omnevivum ex ovo and omne ovum ex vivo" bibirnya dicibir-cibirkannya, beliau sangat antusias sekali jika menerangkan teori kromosom, dan paling sering mengulang-ngulang kata "zigotta" aku paham artinya dan aku suka itu.

Suatu hari dia mengeluhkan tentang perjalanan dari rumahnya kesekolah dengan mengendarai motor vespa tahun alip, yang kalau pulang sekolah meminta bantuan murid untuk menyakan motornya, karna sebelum 47 kali diselah maka belum bisa nyala. Didepan kelas dia menceritakan pronologinya :
"Waktu saya berangkat, dijalan saya diberhentikan polisi, lalu saya berhenti, eeehhh.. dia hanya bertanya sedikit sajah"
Polisi :"mana SIM ??"
"saya jawab ke sekolah, terus saya berangkat lagi".
Tentu saja kami tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya, dan pa Rasim pun ikut tertawa, padahal ia masih belum mengerti maksud dari tertawa kami. Wah..wah..wah Darwin kita ini sebenarnya pandai sekali namun usianya yang menjelang magrib sehingga mendekati pikun, atau memang beliau kualat dengan teori evolusi Darwin-nya yang mengatakan bahwa manusia mempunyai kekerabatan dengan kerabatnya.
Lagi-lagi Sanuri yang dapet pertanyaan teori kromosom, padahal Pa Rasim sebenarnya mencari aku, tapi aku mempunya taktik muslihat dengan menggunakan teori bayangan matahari dibalik tiang, aku selalu bergaser-geser mengikuti irama pergerakan mata guru yang di halangi pandangannya dengan tubuh teman yang dihadapanku.

Ahmad Sanuri sekarang sudah sukses, Ia menjadi guru matematika di sekolah asalnya SMA Necis. Sanuri adalah murid yang mendapat rangking dua setelah aku, kalau dilihat dengan menggunakan teori teleskofis, dimana sebuah benda dihitung terbalik dari subjeknya.
Sejak dulu Ia senang dengan pelajaran matematika karena Ia mengidolakan guru matematika, Bu Titin guru yang cantik, tidak terlalu tinggi namun bertubuh padat dan masih muda. Yang paling pandai di kelasku sebenarnya Toto Sugiarto yang menikah dengan teman sekelas kami, Ia meneruskan kuliah di Geologi ITB (Institute Teknologi Bandung) ia lebih memilih jurusan tukang gali sumur minyak ketimbang jadi guru. Tidak seperti Hendra yang waktu TK bercita-cita jadi Guru malah meneruskan kuliah di ITI (Institute Technologie Indonesia) Serpong, Teknokrat yang satu ini sekarang sudah sukses menjadi trainer dan dapat mengumpulkan uang 4 kresek dalam tempo 30 menit, ia waktu kecil sangat terinspirasi sekali oleh ayah temannya yang menjadi juragan martabak mini.

Malam ini aku bermimpi sangat seram, di dalam mimpi itu aku menceburkan diri dari atas kapal Titanic kedalam samudera lautan lepas. Seperti tokoh Ross kekasih Jack dalam film Titanic. ketika aku menyentuh air samudera itu aku terperanjat dan bangun, kaget yang teramat sangat, suara Andi dan Nunu juga terdengar jelas "aauuwww.." secara bersamaan, lalu disusul dengan suara bentakan dari arah pintu kamar, menggelegar bagaikan halilintar "Molor bae siiiaaa..", "solat subuuuhh... !!!".
Kulihat A Didi kakaknya Nunu sudah berdiri didepan pintu kamar menenteng ember besar. badanku terasa dingin, kulihat Andy dan Nunu basah kuyup, kulihat kasur penuh air, aku sadar bahwa kami baru saja disiram air oleh A Didi.
Kami selalu tidur bertiga seranjang, dan setiap malam kami tidur larut malam karena kami tidak bisa menghindari bermain kartu gapleh (domino). Kalau urusan sholat, keluarga Nunu tidak kenal kompromi, tidak ada alasan apapun untuk kami tidak menjalankan sholat, Aku dan andy boleh telat membayar uang kost atau bahkan tidak membayar sekalipun, itu tidak akan berpengaruh bagi mereka, tapi apabila telat urusan sholat, maka air satu ember besar akan jadi
milik kami.

Kami segera berbenah diri untuk sholat subuh berjamaah, yang jadi imamnya Bapak (Bapaknya Nunu), dirumah itu ada mushola kecil disamping rumah, disitulah kami selalu menjalankan sholat berjamaah. Bapa yang jadi imamnya, kami selalu kerepotan karena Bapak membacakan ayat-ayat yang sangat panjang-panjang, kadang-kadang bisa membaca separuh surat Yasin. Tentu saja kaki kami bergetar dan berubah-ubah posisi karna tidak ditopang oleh iman yang kuat dan keikhlasan mendirikan sholat. Tetapi aku masih mending dibangkan dengan Andy, yang kalau sholat jarang mengambil air wudlu dulu, dia selalu mengambil tempat paling belakang disamping jendela. Suatu hari aku ingin melihat gerak-geriknya sewaktu sholat, kumiringkanlah kepalaku sedikit kesamping dan kulirik dengan sudut mataku kearah Andy, ternyata... tubuhnya bersandar di kusen jendela dan kepalanya persis sejajar dengan lubang jendela, kakinya diangkat satu dan ditopangkan di bawah lutut bagian dalam, dia sering melirik kesamping dan meludah keluar jendela.

Firaun yang satu ini memang sungguh keterlaluan, Penyamun gula merah dari negeri Luragung ini sungguh tidak menyadari bahwa setelah ia meludah kesamping kanan itu telah mengenai muka malaikat Rokib, yang bersama malaikat Atid sedang membawa buku Cashflow amal baik dan buruk kita, akankah malaikat Rokib yang mempunyai dendam pribadi kepada Andy mau memaafkannya ? Aku tidak yakin !!.
Aku mengira di akhirat kelak Malaikat yang dua itu akan memberi kesaksian yang memberatkan padanya. Tapai sampai sekarang aku selalu berdo'a untukmu Dy ! semoga saja Malaikat itu tidak lagi ingat kejadiannya, dan kamu juga harus berdo'a Dy ! kamu harus lebih sering mendirikan shalat tahajud memohon ampunan kepada Alloh atas salah dan dosa yang telah pernah kita perbuat, baik yang terasa maupun yang tidak terasa, baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja,semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita Ammiiinnnn.......

Kisah ini diceritakan oleh penulis dengan ingatan yang terbata-bata, karena didalam cerita ini nama tokoh dan nama tempat tidak ada yang disamarkan, maka dengan segala kerendahan hati penulis mohon maaf yang setulus-tulusnya apabila cerita ini menyinggung perasaan para tokoh, kisah ini dibuat hanya berdasarkan perspektive penulis dan tidak seluruhnya benar terjadi.

Tulisan ini dibuat dengan open-source, apabila pembaca ingin merubah, menambah atau mengurangi silahkan buka di :
http://manecis.blogspot.com/2009/10/andy-teman-sekamar.html

Tulisan ini masih bersambung, apabila dalam komenter banyak yang pembaca yang menghendakinya, maka penulis akan segera menerbitkannya.

Wassalam,
penulis.






Baca Selengkapnya...

Minggu, Oktober 04, 2009

Pertentangan hati menuju reuni


Lelaki yang dibawah pohon kelapa itu, dalam lindungan bayangan daun-daun yang menutupi teriknya sinar matahari siang itu, terus menerus matanya memandang ke arah timur, pandanganya yang polos seolah-olah tak berdosa dilemparkannya jauh hingga kepematang terakhir di samping kampung tetangga. Rupannya lelaki itu suka menyendiri dipematang sawah untuk menghindari hiruk-pikuk keramaian aktipitas orang-orang yang bergelut, berebut mencari nafkah. Rupanya lelaki itu adalah aku, yah ! aku. Aku yang sering kali menyendiri dipematang sawah dibawah pohon kelapa dan kadang-kadang dibawah pohon nangka, bosan aku memandang ketimur lalu kapalingkan pandanganku ke arah barat, jelas rupanya terlihat dari kejauhan anakku melambai-lambaikan tangannya isyarat memanggil aku maksudnya mungkin, (ha..ha..cangkeul nulis carita make baha anu daria mah,,). aku berjalan dan menghampiri anaku, setelah sampai kutanya dia "Aya naon Neng ?" aku memanggil dia "eNeng" padahal namanya bukan itu, dalam akte kelahiran namanya Nakita Piksi d'Satyavadin, "aya tamu Pih" jawab anakku,(Mohon ma'af kepada pembaca, dalam percakapan ini penulis menggunakan bahasa sunda dan campuran, tidak menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar dengan tujuan agar sesui dengan percakapan aslinya.) sampi dirumah kujumpai tamu itu, sempat aku mengernyitkan dahi mengingat siapa gerangan ini, perasaanku pernah mengenalnya, tidak perlu lama aku sudah dapat mengingatnya, si Dede, Dede Suharto teman sekolah aku di SMA Cilimus angkatan '88. Segera aku beramah tamah layaknya dengan teman yang sudah lama baru berjumpa lagi. si Dede mengutarakan maksudnya menemui aku untuk mengantarkan undangan reuni SMA Cilimus angkatan '87, '88, '89 dia juga menceritakan pentingnya dan manfa'atnya ikut reuni sebab dia juga salah satu kordinatornya, lama kami berbincang-bincang lalu dia permisi pulang.

Berhari-hari aku berpikir hanya untuk memutuskan apakah aku akan menghadiri reuni tersebet atauhah tidak akan datang, hatiku sungguh belum sanggup untuk bertemu dengan kawan-kawan lama semasa SMA dulu, ada persaan malu, minder, risi dan perasaan-perasaan lain yang sering teringat, semakin hari aku semakin berhitung tentang apa yang aku dapat raih setelah selesai dari bangku SMA ? apa yang bisa aku banggakan sehingga aku bisa berceritra nanti pada temen-teman ? masa depan apa yang akan aku bahas dengan mereka ? apakah mobilku tidak terlalu tua dibandingkan dengan mobil mereka ? apakah kulitku akan terlihat lekang dibanding dengan kulit mereka ? apakah handphone ku tidak terlalu murah dibandingkan dengan hendphone mereka ? akan bilang apa aku apabila mereka bertanya tentang apa pekerjaanku sekarang ? bekerja dimana istriku ? dan banyak pertanyaan lagi yang teringat dalam benakku, semakin bertambah hari semakin bertambah banyak pertanyaan dalam benakku yang tidak akan mampu kujawab, karena memang aku tidak memiliki semua yang menjadi pertanyaan diriku sendiri. Suatu malam sungguh aku tidak bisa tidur hingga sudah larut malam, pikiranku terganggu dan wajah murung tidak bisa aku sembunyikan lagi dari tatapan anak dan istriku, disaat istriku terjaga dari tidurnya dan sudah hampir waktu subuh dia menoleh kearahku, sejenak kami saling bertemu tatap, lalu istriku bangkit seraya bergumam "karunya teuing si Papih sirahna dugi ka ngebul, cepilna kaluar api nuju ngemutan nyiar nafkah kanggo urang Neng" telingku masih jelas mendengar gumamanya dan aku merasa bersalah pada mereka, kerena sesungguhnya aku tidak sedang berpikir mencari nafkah aku tidak bisa membiarkan perasaan bersalahku terlihat matahari, aku harus berbicara padanya tentang apa yang aku pikirkan. Cepat sekali istriku membuat kopi dan disuguhkannya padaku, pada saat itu aku membicarakannya kepada istriku tentang apa yang sedang aku pikirkan, tentang takutnya aku bertemu dengan teman lamaku. Istriku rupanya kecewa dengan apa yang aku tuturkan, ia berusaha membesarkan hatiku untuk tetap bisa datang di reuni tersebut, ia menginginkanaku berjiwa besar untuk tidak malu dengan apa yang dapat kami peroleh selama ini, rizki orang tidak akanlah sama demikian pula dengan takdirnya, manusia diciptakan oleh tuhan dengan berbeda-beda hanya semata-mata karena kehendakNya, tiada Tuhan membeda-bedakan makhlukNya melainkan karna ketakwaannya, begitulah ia menuturkannya dengan menirukan gaya Mamah Dedeh da'iyah kondang.

Pagi itu turunlah hidayah kepadaku, aku bulatkan tekad untuk menghadiri reuni bila tiba saatnya nanti, persiapanpun kami kerjakan selama dua minggu sebelum hari itu tiba, sekarang disetiap kali aku mandi aku memakai pemutih kulit merk BIORE yang dibelikan istriku karena aku mengeluhkan tentang kulitku yang hitam terbakar matahari, aku membongkar lagi lemari pakaian untuk mencari pakaian baju kemeja warna putih, tapi hanya menemukan kemeja yang mendekati warna putih, terus mencari celana jeans biru dan aku menemukannya akan tetapi ukurannya terlalu ketat, tidak apalah sebab katanya manusia sama dimata Tuhan, kalau demikian tentunya Tuhan tidak akan menanyakan ukuran celana saya, setiap malam aku berlatih mejawab secara diplomatis pertanyaan-pertanyaan seperti diatas dengan meniru gaya SBY. Lebaran tiba persiapanpun telah matang, aku siap menjemput hari itu.

Harinya telah tiba, aku sudah berada di depan sekolah SMA Cilimus, dengan gemetar aku masuk melewati pintu gerbang, hanya beberapalangkah dari pintu gerbang sudah dapat ditemui tiga orang penerima tamu, dengan senyum ceria mereka menyambutku, seketika itu aku yakin mereka adalah temanku dulu, seraya mereka menyapa "Dadan nya ??" sambil mengulurkan tangannya, ketika kujabat jemari tangannya..jempol semua (ha.ha. ieu tehkeur nulis tapi hayang bae hereuy) lalu ditunjukannya aku dengan penuh kehangatan untuk terus menuju balandongan, baru beberapa langkah aku sudah disambut oleh beberapa teman sekelasku bersama-sama kami menuju tenda dan ternyata di tenda sudah berkumpul temen-teman sekalian.
Kamipun larut dalam suka cita, senda gurau, tegur sapa sambil menyesuaikan pandangan mata, mengadaptasikan penglihatan deng ananatomi tubuh teman-teman yang kebanyakan dari mereka tubuhnya telah tumbuh dengan subur, paras muka yang sepintas tidak aku kenali lama kalamaan mulai bisa mengingatnya, seingatku di tahun '88 tubuh dan paras setua itu mirip Pa Uci Sanusi (Bp. relevansi) pa Uci itu paling suka bilang relepan bahkan sekali pidato senen pagi beliau bisa mengucapkan relepan berulan-ulang.

Sampai siang kami berbicang-bincang bersenda-gurau tak satupun ada pertanyaan yang aku duga sebelumnya seperti punya mobil apa?, bekerja dimana ?, kuliah dimana ?, istri/suami kerja dimana ?, yang mereka tanyakan hanya berapa jumlah anak ? dan tinggal dimana sekarang ? dimata teman-temanku tolok-ukur keberhasilan seseorang itu equivalen dengan jumlah reproduksi budak, hahaha padahal aku sudah bersusah payah berlatih untuk menjawab, semua yang kukira, semua yang kubayangkan dan semua sakwa-sangka itu semua tidak terjadi, yang terjadi hanyalah sukacita, riang-gembira, senda-gurau, dan merasa lebih muda dari usia yang sesungguhnya.

Itulah perjalanan hati saya setelah menerima undangan reuni hingga menghadirinya, dengan segala kerendahan hati saya mohon ma'af kepada istri dan anak saya, mohon ma'af kepada temen-teman saya se SMA dulu angkatan '87, '88, '89, mohon ma'af kepada pemrakarsa dan panitia reuni SMA Necis th 2009, mohon ma'af kepada Guru-guruku dulu.

Penulis menceritakan ini bertujuan untuk menghimbau kepada teman-teman yang belum sempat mengikuti reuni karena kesibukan dan atau halangan lainnya, atau bahkan punya prasangka yang sama dengan penulis, usahakan untuk mengikutinya apabila dikemudian hari mendapat kesempatan diundang dalam acara reuni, dengan tidak bermaksud menggurui tetapi penulis menceritakan bahwa penulis telah mendapatkan kembali kebahagiaan yang sejati layaknya waktu remaja didalam reuni, walaupun hanya sebentar penulis merasa bahagia sampe sekarang.

Tamat.

Baca Selengkapnya...

Sabtu, Oktober 03, 2009

Menantimu di lampu merah Cijiho

Dua puluh tahun yang lalu, waktu itu aku masih pake baju putih abu dan ada KISAH KASIH YG TAK TERLUPAKAN. Setiap mau brangkat sekolah, aku selalu menunggu teman ku di lampu merah Cijoho, harapannya sih dia belum lewat agar aku bisa nebeng naik motor vespanya sampai ke sekolah, pan slamet tuh uang 100 perak buat ongkos teh bisa pake jaaa..jan. ha..ha..ha.....

Sungguh Dra.. aku slalu merindukan mu dan menunggumu dibawah lampu merah Cijoho kalo pagi, and kalo siang dibawah caringin depan kantor sekolah. Kamu sangat berti bagiku, tapi lebih berarti lagi motor vespamu itu hahaha..( intermezooo....) sory kalu dulu aku sering membuatmu risi dan sebal, tapi sungguh Dra... aku harus menyelamatkan uang buat ongkos itu, demi stabilitas cacing perutku.
sesampainya di sekolah... perasaanku selalu merasa bangga bila datang di bonceng Hendra, aku berharap temen-teman yang melihat akan menganggapku cs nya Hendra dan menganggap aku se kapable dia, yang mana kita semua tau siapa seeehhh..Hendra itu, dia aktivis, atlit, kokay, pinter, dll (pokokna nu alus-alusmah hop..tah..jang manehna kabeh), sementara aku.........(perlu penegasan kembali kriteria aku dulu) bodoh, malas, dabrul, dll (pokokna nu goreng-goreng dedetkeun ka sayah hahah..)

Kalo di sekolah sering aku memergoki pembicaraan para kerumunan cewe-cewe lagi ngerumpiin Hendra (..sok tah cewe-cewenya ngaku aja sekarang, daripada tar aku yang nulis.. mendingan tulis sendiri deh di komentar atau blog yang judulna BLAK BLAKAN kitu..) dan biasanya aku langsung nyampeur, trus aku bilang gini : "heh..pan si Hendra teh cs urang ayeunamah"
baru satu kalimat, sontak itu muka berpaling dariku haha... dan waktu itu aku berasumsi bahwa mereka malu kalau aku mengetahuinya, lantas dengan senyum kemenangan aku pergi dari mereka...... eeehhh... setelah dipikir-pikir sekarang sambil nulis nih sepertinya bukan begitu deh, bukan malu kalau aku mengetahuinya, tapi lebih mendekati kalau "nimbrung aja luh..so' kenal maneh teh" hahaha....
(itulah hikmahnya miss untherstanding, kapinteranna gusti Allhoh yang maha membulak-balikan fakta).

Jika kebetulan aku eling dan bisa menyelesaikan jam pelajaran sampai akhir dan ketika bel terakhir berbunyi segeralah aku pergi ke bawah pohon caringin, disitulah motor vespa Hendra biasa diparkir, dengan berpura-pura ngobrol atau apa saja asal jangan baca buku (aku paling benci membaca buku) menunggu dia pulang dengan harapan aku diajak lagi bareng pulang.

dua jam aku menunggumu Dra.., sungguh penantian yang amat panjang hanya untuk menyelamatkan uang 100 perak biar tidak usah ngongkos naek elf, eeehhh sampean malah rapat osis..kurangajaaaar teh...begitu kejamnya dirimu padaku, tidakkah kau punya sedikit rasa kasihan pada temanmu ini yang sudah kekeringan dibawah tangkal caringin ?. Coba kalau kamu dulu sudah jadi "trainer" dan bisa mengumpulkan uang empat keresek, yang katanya uang tersebut akan diberikan pada pengemis yang pertama kamu jumpai, maka yang pertama kali akan kamu jumpai itu adalah aku,,aku,,aku Dra... mungkin dulu aku benghar yah..?? dikasih uang empat keresek tiap hari hahaha.........................

Aku punya cara untuk berpura-pura bahwa aku tidak membutuhkan Hendra dan tumpangannya, jika aku lihat dia keluar mau pulang biasanya datang dari sebelah barat lewat lapang basket, sedangkan aku sudah menunggu dibawah caringin, sebelum Hendra melihat aku segera balik badan kesebelah timur(nukangan) tapi badanku menempal pada motornya, dan ketika dia sampai dia akan menegur begini :
Hdr :"Vadin maneh can balik ?" (dia selalu memanggilku dengan sebutan itu)
aku terperanjat pura-pura kaget
Ddn:"tacan Dra.. nungguan si Andi euy"
Hdr:"ageh bareng beu" sambutnya sambil nyelah motornya berkali-kali (haha..motor kaluaran jaman belanda tea, can ngesangmah moal kasada siah..)
Alhamdulillaaaaahhh.. akhirnya penantian itu berbuah 100 perak. terima kasih Tuhan, terimakasih Hendra, terima kasih teman-teman yang tidak mengetahui akal-akalan aku juga terimakasih yang setulus-tulusnya kepada kekasihku dulu namanya "VESPA" catanya silver.

Yang penulis ingin sampaikan bahwa Hendra dan Vespa silver akan selalu hidup dalam imajinasi Dadan, dulu, sekarang dan yang akan datang, mereka adalah merupakan bagian dari masa lalu Dadan Satyavadin, walaupun aku tidak dapat memilikinya (vespa) imajinasinya saja sudah lebih dari cukup, penulis menyadari bahwa tanpa mereka, teman-teman, para Guru (kecuali Pa Sanuri haha) penulis tidak akan pernah ada ......................................................................................

Terimakasih HENDRA.

Tulisan selanjutnya ketik disini...

Baca Selengkapnya...

Ujung-ujungnya duit juga.

kutulis bahasa binary satu persatu di pengolah kata, pikiranku terpasakkan dalam algoritma, rokok yang kuselipkan pada asbak asapnya mengganggu pandanganku ke layar monitor, ahhh... konsentrasiku pecah mendengar suara sapaan dari belakang tubuhku, "keur naon Dan ?" , suara bernada tenor yang menyebalkan itu memecah keheningan.
Kuputarkan kursi yang kududuki ke arah belakang tubuhku walau pun aku hapal betul suara itu.

Bi Inoh namanya, dia masih kerabatku rumahnya disamping rumahku dan ekonominya tidak termasuk berada dibawah garis kemiskinan, namun kira-kira berada tepat atau pas pada garis kemiskinan.
Dia sudah berdiri tiga meter dibelakangku tanpa kusadari kapan dia masuknya, aku tidak berniat menjawab pertanyaannya sebab menurutku matanya katarak walaupun tidak buta, buktinya komputer sebesar itu yang sedang aku oprasikan dan aku hadapi tidak jelas terlihat olehnya malah bertanya padaku sedang apa ?, aku balik bertanya padanya "aya naon Bi, ?" , "kiyeu .. dan, !!" dia mulai membuka percakapan denganku.
"si Bibi teh kudu mayar nu nyambut sawah (membajak sawah) kesore, jadi wayahna nginjeum heula duit 170 rebu, tah.. ngke minggu hareup lamun budak geus datang ti kota, si Bibi bayar ka maneh." dia menerangkan panjang lebar dengan logat sunda Kuningannya.
"ayeunamah keur teu boga duit Bi, !" aku menjawabnya singkat saja, lalu kuputarkan kembali kursi yang kududuki kearah komputer dan membelakangi bi Inoh.
"eehhh.. ari maneh !!, yeuh sing ingeut Dadan !, si Bibi teh kieu-kieu oge gede jasana ka kulawarga maneh teh, naha ari maneh di injeuman duit sakitu bae make alesan sagala ???!!" nada bica bi Inoh mulai meninggi, lalu dia meneruskan lagi ocehannya.
"malahan waktu maneh keur dilahirkeun oge, saha atuh anu nungguan indung maneh sapeupeuting jeput lamun lain si Bibi mah, nepika nalika maneh jebrol dilahirkeun anu mimiti ngamandian maneh teh ku si Bibi !!"
aku mulai bicara, "ah, etamah fitnah Bi !" jawabku sembarang bicara saja sambil tetap tidak menoleh kebelakang, tidak di acuhkanya dia dibelakangku olehku.
"nyaho naon maneh waktu harita ? kalah kanuduh fitnah ka si Bibi ??!!" nada bicara bi Inoh semakin tinggi saja.
"buktina waktu kuring dilahirkeun, kuring asa henteu ningali si Bibi !" jawabku memberi kesaksian pada dia, dan bi Inoh diam saja tidak meneruskan lagi celotehnya, dikerlingkannya dahinya sehingga membentuk kerutan-kerutan di dahinya, dan dia masih tetap diam.

Tetapi memang sesungguhnya aku benar-benar tidak melihat ada dia sewaktu aku dilahirkan oleh ibu-ku dulu, aku tidak begitu yakin dengan ucapan bi Inoh, aku cukup kenal dengan dia sebagai orang yang suka melebih-lebihkan berbagai hal. Dia suka membual. Dia juga suka ingkar janji, sampai saya suka merasa jengkel.

Tidak lama kemudian dia melemparkan kakinya hendak menjauhkan dirinya dariku, tetapi baru beberapa langkah saja rupanya telingaku mendengar dengan jelas dia bergumam, atau memang dia sengaja agar terdengar olehku.
"gelo teh ti baheula teu cageur-caguer, moal boa salah nginum obat kitu ??" gumamnya terdengar semakin menjauh dariku, dan akupun membalas dengan berbicara sendiri.
"dasar nini-nini peot ka poe, puguh-puguh maneh anu tulalit (tidak nyambung) malah nuduh ka aing gelo deui."

Aku sungguh heran kepada bi Inoh, kalau dia berbicara kepadaku selalu saja intonasinya tidak enakan terdengar ditelingaku, dia menganggap dan memperlakukan aku seolah-olah anak kecil yang belum disunat.
Tetapi aku tidak mau larut terus-menerus dengan kekesan hatiku, untuk mengobati rasa kesal hatiku lalu ku arahkan tanda panah di penyeranta pada komputerku ke arah tulisan http://www.facebook.com lalu kutekan tombol pada gagang perintah itu, terpampanglah wajah-wajah temanku tempo dulu di komputerku.
Jendela inilah yang suka membuat hatiku merasa gembira, seolah-olah kami bercakap-cakap dengan teman-teman dulu waktu tahun jebot, kala itu raja Firaun pun masih ngojeg dan belum secanggih sekarang. Akupun mampuh duduk ber lama-lama memainkan jendela itu, dan aku bahagia.

Tamat.
Mulai ketik disini ya..

Tulisan selanjutnya ketik disini...

Baca Selengkapnya...

Jumat, Mei 22, 2009

PERTEMUAN KE-4 : SANGKANURIP

Assalamualaikum ka sadaya alumni...

Alhamdullilah, tanggal 21 Mei kemarin kita berkumpul di Sangkanurip...banyak wajah baru (padahalmah wajah lama, tapi pangling..hehe..)..berdatangan di acara kemarin. Jadi we acara sempet tertunda dimulai da banyak yang saling melepas kasono (bari jeung bingung..”saha nya ieu teh ?..” maklum atuh..20 tahun lebih teu patepang...pertemuan kemarin mungkin yang paling rame da paling banyak yang hadir diantara 3 pertemuan sebelumnya...Alhamdullilah..bisa jadi ”indikasi” banyaknya peminat acara reuni kita nanti...(Bapa guru dan kepsek juga ada lhoo..sok liat di foto, masih inget ga sama wajah-wajah beliau yang disini ?...)

Pertemuan kemarin pada intinya menyampaikan undangan resmi untuk acara reuni nanti. Undangan sudah disebar melalui teman-teman koordinator Cilimus, meski tidak semua angkatan ada koordinatornya, mudah-mudahan tidak jadi hambatan dalam penyebaran undangan ini. Yaa..tatalepa we lah. Dari mulut ke mulut, door to door..kumaha we carana mah yang penting nyampe..hehe..
Tah, seperti inilah isi undangannya : (dipotong sedikit, intinya aja yaaa)..

Sebagai awal dari niat besar untuk menyatukan kembali seluruh alumni dalam suatu wadah Ikatan Alumni, kami mengundang teman-teman alumni SMA NEGERI CILIMUS Angkatan 1987, 1988, dan 1989 untuk hadir dalam acara ”REUNI : MENANDAI DUA DASA WARSA” , yang Insya Allah akan kami selenggarakan pada :

Hari/Tanggal : Rabu, 23 September 2009 (3 Syawal 1430 H)
Waktu : Pukul 10.00 WIB s.d. selesai
Tempat : SMA Negeri 1 Cilimus
Jl. Panawuan, Kec. Cilimus, Kab. Kuningan
Pakaian : Blus/Kemeja Putih + Blue jeans

Untuk kepentingan dokumentasi data alumni dan administrasi pelaksanaan reuni, kami mohon rekan-rekan dapat mengisi formulir terlampir. Kami juga memohon bantuan rekan-rekan untuk turut serta menyebarkan informasi acara ini kepada teman-teman alumni yang lain.


Dalam undangan ada lampiran untuk keperluan data alumni yang harus diisi dan dikembalikan ke panitia, juga ada nomor rekening untuk donasi acara reuni, masing-masing peserta diminta donasi minimal Rp 25.000 (langkung ti eta Alhamdullilah, ditampi pisan)...nomor rekening bisa dilihat di halaman atas blog ini.
Lampiran untuk data alumni seperti di bawah ini...
Formulir data alumni yang udah diisi bisa dikirim (secepatnya) ke alamat sekretariat panitia via pos ataw email juga boleh (meh praktis teu kedah diperangkoan..hehehe..)..

Kemarin juga ada informasi, angkatan ’90 kabitaeun juga untuk ikutan reuni ini...(setelah sebelumnya angkatan ’86, menyatakan diri untuk bergabung..)..mangga, akan diterima dengan terbuka, asal ndaftar ya dan ada koordinatornya biar panitia (seksi konsumsi) teu pusing dengan kurangnya jatah makan..hehehe...duuh..jadi deg-deg an euy...mugi-mugi panitia tiasa ngawujudkeun acara ieu nya, dengan dukungan ti sadaya peserta tentunya..


DATA ALUMNI - SMA NEGERI CILIMUS

Nama : ..............................................................
Angkatan: ..............................................................
Kelas : ..............................................................
Tempat & Tgl. Lahir :

Data Keluarga
Nama Istri/Suami : ..............................................................
Nama Anak :
1. ..............................................................
2. ..............................................................
3. ..............................................................
4. ..............................................................

Alamat Rumah : .................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
Telepon Rumah : ..............................................................
Telepon HP : ..............................................................

Usaha/Pekerjaan
Status : ..............................................................
Kantor : ..............................................................
Alamat : .................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................
Telepon Kantor : .............................................................
Email : .............................................................
...................,....................... 2009

* Mohon Sertakan Pas Foto Terbaru (untuk buku Alumni)

Jadi buat temen-temen yang belum menerima undangan, anggap saja ini sebagai undangan ya, kemarin kita sudah mencetak 350 eks , tapi mungkin belum tersebar merata ke temen-temen smua...
Nah, kalo yang ini, susunan acara reuni nanti...silakan kalo ada yang mau ngasih saran, masukan sebagai tambahan untuk seksi acara...(rincian acara akan dirumuskan dengan lebih lengkap di acara pertemuan bulan Juni tgl 28 di Tangerang...)

Susunan Acara ”Reuni : Menandai Dua Dasa Warsa” Alumni SMA Negeri Cilimus Angkatan 1987, 1988, dan 1989

1. Pembukaan
2. Pembacaan Ayat Suci Al-Quran
3. Sambutan-sambutan
- Ketua Panitia
- Bp. Kepala Sekolah
- Perwakilan Guru
- Perwakilan Alumni
4. Pemberian Kenang-kenangan
5. Napak Tilas 1987 – 2009
6. Ramah Tamah : dengan guru-guru dan semua rekan alumni
7. Halal-bi-Halal dan saling bersalaman.
8. Makan Siang
9. Hiburan Dengan tema : Back to Zona ’80 an
10. Door Prize & Foto Bersama
11. Doa Penutup

Tah, gimana pren..cukup kali ya info nya untuk saat ini...ditunggu tanggapan nya, lho....jangan cuma dibaca truss lupa..
Kemaren, saking ciweuhnya kita, sampe lupa berfotoria..sebagian udah pulang, baru deh inget foto-foto an...sori 4 everybody..hehe..
Terakhir, hatur nuhun ka ceu Iin Ratnaningsih (’88), yang udah nyediain tempat plus makan siang yang shedap...Jazakumullah khairan katsiro..

Nih ada foto yang bener-bener ga lengkap (maksudnya ga mewakili yang hadir, padahal lebih dari 30 orang lho...)



Wassalam,
n-e-n-g-n-d-r-i-e '88

Baca Selengkapnya...

Sabtu, Mei 09, 2009

Romeo-Juliet, Kebebasan Ber-ekspresi, Diskredit dan Bogem Mentah



Posting kali ini sama sekali gak ada hubungannya dengan urusan REUNI. Selingan aja. Biar Blog kita sedikit 'berwarna'...pelangi kale..
Sedikit terlambat saya coba angkat tema tentang film ini. Di bagian lain, masih di dunia yang sama, maya, sudah enek dengan polemik dualisme yang tak kunjung bertemu opini yang selaras. Sementara di dunia nyata, film ini di boikot edar di Bandung dan sang sutradara, Andi Bachtiar Yusuf, di anugerahi Bogem mentah di Paris Van Java oleh Dedengkot Viking, Heru Joko + Viking Front Line...

Ya..anda mungkin pernah dengar kontroversi Romeo-Juliet versi Andi Bachtiar Yusuf.
Sebuah film drama percintaan antara anggota 2 kubu supporter sepakbola paling heboh di tanah air. Si cowok adalah anggota The JakMania, sementara si cewek anggota Lady Viking. Sayang saya juga belum nonton film ini, cuma lihat trailer nya. Tapi itu tidak penting menurut saya, karena apapun itu namanya, ketika melahirkan sebuah kontroversi pasti ada adegan, ada dialog, yang menyinggung perasaan orang lain.

"Ranggamone Larico adalah seorang fanatik Persija, cintanya pada Persija melebihi apapun yang ada di dunia ini. Seperti para fanatik lainnya, Rangga juga membenci siapapun yang membenci timnya dan tak pernah segan-segan melakukan kekerasan, seperti yang juga dilakukan oleh banyak fanatik lain di berbagai belahan dunia. Tak ada hal yang ia mengerti lagi selain tentang tim kesayangannya bahkan lingkungannya pun hanyalah teman-teman penggila sepakbola dengan latar tim yang sama, kecuali satu orang…Agus Purnomo yang tanpa henti terus berkata pada Rangga “Fanatisme yang membuat semuanya jadi ugal-ugalan, coba kalo gak ada fanatisme, idup lo aman-aman aja kan?”

Namun hidupnya berputar 360 derajat saat hatinya tergerak untuk mencintai Desi Kasih Purnamasari, gadis Bandung yang besar dalam lingkungan pencinta Persib. Adik dari Parman seorang yang cukup dituakan di kalangan pendukung Persib. Desi besar dalam kehidupan yang memuja warna biru yang dikenakan oleh Persib, seluruh waktunya dicurahkan untuk mendukung tim asal Bandung tersebut. Sejak kecil terus diajak oleh sang kakak yang berselisih usia nyaris 20 tahun, Desi mencintai Persib seperti cintanya pada keluarganya.

Jika kemudian ia jatuh cinta pada Rangga, cinta Desi para timnya tidak pernah luntur. Sama seperti cinta Rangga padanya yang seolah terbagi dengan cintanya pada si oranye, Persija. Pertentangan keduanya kemudian membawa mereka pada kenyataan bahwa kedua belah kelompok adalah pihak yang sama sekali tidak kenal kompromi pada perbedaan yang mereka miliki. Pertentangan dan permusuhan yang terjadi telah mengkotakkan mereka, seperti juga agama yang dengan tegas mampu memisahkan manusia dalam jurang perbedaan yang sangat tegas.

Adaptasi karya agung Shakespeare ala kehidupan sepakbola Indonesia ini adalah sebuah potret bagaimana kehidupan kebanyakan kita saat ini berjalan. Bergerak penuh gelora di tengah kekacauan hubungan kedua belah pihak yang biasa menjadi pilar hidup mereka adalah sebuah kekalutan, namun….Rangga dan Desi (nama yang saya pilih untuk menggantikan Romeo dan Juliet) memilih untuk berkata “Aku mencintaimu sampai mati,” daripada menyerah pada keadaan."

Saya kutip dari tulisan Andi. Konsepnya lumayan, meski tidak original, karena pernah juga dibuat film dengan tema sejenis di luar negeri. Lalu kenapa kemudian menjadi kontroversi? bagian dari strategi promosi? bukan juga, buktinya film ini diboikot edar di Bandung. Dari Catatan yang saya kumpulkan, beberapa persoalan yang mungkin kemudian menjadi kontroversi adalah ;
- Kurang observasi, terutama existensi Viking sebagai supporter sepakbola.
- Andi pernah jadi pengurus Jack Mania, pendapat nya di film terpengaruh itu. Bahwa peng-kotakan 2 kubu kemudian malah menjadi tambah meruncing.
- Dialog yang mengatakan cewek Bandung = bispak, Bitch
- Dialog yang mengatakan bahasa sunda = bahasa monyet

Inilah barangkali yang andi lupa. Bahwa dengan dalih semanis "kebebasan berekspresi"
tetap tidak boleh menyinggung perasan orang lain. Bahwa kita sebagai bangsa, rentan dengan 'SARA'. Kondisi bangsa sudah sedemikian eksplosive ketika berhadapan dengan kata berbau 'SARA'. Bahwa saya sebagai orang sunda, terus "kanyenyerian", sampai mengirim surat terbuka untuk diskusi dan meminta maaf pada khususnya orang sunda. Belom dibales-bales juga tuh email nya, sampai hari ini.

Pemasungan kreativitas menurut mereka, ketika sebuah karya seni tidak bisa di saksikan sebagian masyarakat, karena arogansi sebagian VIKING yang memboikot, dan diskusi dengan pengurus viking yang diakhiri dengan beberapa bogem mentah. Apapun itu adalah klise, ketika karya mereka tidak terapresiasi.

Saya pribadi merasa gak ada kepentingan denga kontroversi romeo juliet, kecuali karena saya orang sunda. Dan saya bukan penikmat film indonesia yang baik, dan kebetulan penikmat sepakbola, komo PERSIB.
Jadi FUCK YOU ANDI BACHTIAR YUSUF.... ha..ha.

Bandung, Syaqila

Baca Selengkapnya...

Sabtu, Mei 02, 2009

PERTEMUAN LANJUTAN

Assalamualikum ka sadaya,...

Tanggal 26 April, di Cikarang, panitia reuni 3 angkatan kembali bertemu untuk membahas beberapa hal penting untuk acara reuni. Ga banyak yang hadir tapi ada beberapa orang "new comer" yang pangling banget karena emang baru pertama ketemu setelah 20 tahun... welkome pren...hehe...(ada juga tamu istimewa : kang Djadja angkatan '86 yang kabitaeun untuk gabung dengan kita...mangga akang, teteh '86, selamat bergabung...tong hawatos...ada undangan khusus wat akang & teteh, kok..)



Pertemuan kemarin membahas undangan yang akan mulai didistribusikan kepada seluruh peserta alumni..disodorkan beberapa konsep undangan yang sekarang tinggal diperbaiki, ditambah yang kurang, dibuang yang berlebih...mudah-mudahan akhir mei temen-temen alumni dah nerima undangan nya..

Alhamdullilah, di pertemuan kemarin juga kita dapat donatur yang bertanggung jawab untuk konsumsi acara reuni : jazakumullah khairan katsiro..untuk sahabat ku Iin Ratnaningsih (Bio 2, '88)..hanya Allah swt yang dapat membalasnya...juga untuk temen-temen lain yang udah transfer ke rekening khusus atw yang udah ngasih langsung ke bendahara..hatur nuhun..diantos sumbangan selanjutnya...

Agenda pertemuan selanjutnya, Insya Allah bulan ini akan diadakan di Cilimus, karena di 2 pertemuan kemarin koordinator dan panitia Cilimus belum bisa hadir, jadi untuk bulan ini kita akan bertemu teman-teman panitia Cilimus...lagi-lagi hatur nuhun ka ceu Iin Ratnaningsih yang udah nyediain tempat wat kita ketemu...tanggal pastinya belom ada, tapi temen-temen Cilimus tunggu yaa pemberitahuan selanjutnya...mudah-mudahan juga temen-temen Cilimus dah dapet data temen-temen yang buanyaaak...amin..

Kita berdoa bersama ya..semoga apa yang kita dan temen-temen panitia kerjakan saat ini akan berbuah manis pada hari H nanti..kita dapat bertemu, berkumpul, bersilaturahmi, berpeluk erat pada satu muara rindu yang serupa..

Ni sebagian yang hadir..hobi pisan berfotoria nya ?..



kalo ada saran, atw masukkan untuk acara reuni nanti, boleh sok posting di blog ini ya, pren...mangga diantos..

Wassalam,
n-e-n-g-n-d-r-i-e-'88

Baca Selengkapnya...

Senin, April 20, 2009

Ngaca...


"…Hareupeun kaca ngajanteng salila-lila, roman alum gurat duka atra narémbongan. Hareupeun kaca sagala nu karandapan, lalakon katukang-tukang nungtut narémbongan. Reueuk rumeuk dina eunteung, semu keueung semu nineung. Jiwa awaking nyarita jiga nu nganaha-naha, duh ieung geuning jiga nu nganaha-naha. Béjakeun deudeuh, bejakeun rumasa geus katalimbeng…"
Kawih diluhur kenging iasana Mang Koko, seniman luhung teureuh tatar Sunda. Syairna pinuh siloka keur pangeling-eling.
Hareupeun kaca, hariring nu ngajak muhasabah nimbang umur nu terus cueut kahareup. Sanajan tembang lawas tapi puguh matak lelenyapan mun dilenyepan. Kuring nyobaan ngajanteng hareupeun kaca. Naha ieu diri kuring nu sabenerna? Lamun lain, saha atuh nu aya dihareupeun kaca? Ret ka luhur, buuk geus pinuh ku huis, kulit geus mimiti karijut nembongkeun gurat-guratna. Panon teu bengras cara baheula. Huntu geus pada ninggalkeun gugusi, sawareh nungtutan barolong bari jeung nyanyautan. Tanaga oge tambah suda karasa..
Memang sagala panyakit cenah aya ubarna, iwal ti hiji nyaeta panyakit " KOLOT..". Unggal detik, panyakit kolot bakal nambahan kalawan taya nu wasa nyegahna. Hartina sarua wae umur teh unggal detik baris ngurangan. Matak kuring mah hayang seuri, lamun aya jelema nu ngado’akeun panjang umur. Sabab pan umur mah moal bisa dipanjangkeun boh kitu deui dipondokeun. Da cenah geus puguh bilanganana. Lamun nepi kana titis tulisna mah hamo bisa aya nu ngahindar tina perlaya. Tetela nyinghareupan panyakit kolot mah lain ku obat, tapi kudu ku tobat.
Eunteung kaca eta geus nyampak didinya tibaheula. Tapi naha tara dipirosea. Saha nu nyangka diri geus rea parobahan bari teu kanyahoan. Atra dina kaca, Pangeran nu murbeng alam mere totonden ka jelema ku cara mundutan kanikmatan. Aya nu make cara kiridit, aya oge nu kontan. Pikeun manusa nu bisa mikir, kaca teh nyarita, eces bebeja ka juraganana. Kaca oge jadi ibroh tur palajaran nu kacida gedena. Kuring nanya ka diri sorangan. Geus nepi kamana urang leumpang. Sabaraha kahadean nu dipigawe poe ieu? Naha masih tumetep dina garis karidhoan mantenna?
Di hareupeun kaca, rumasa kuring ngan ukur jadi wayang. Nu sawaktu-waktu kudu asup kotak, nutup lawang sigotaka. Mawa carita pikeun manggung di tempat sejenna…

Ti Rukun Sadulur (Kidaus'89)

Baca Selengkapnya...

Sabtu, April 11, 2009

N O S T A L G I A

Jadi gatel juga pengen posting. Merasa 'terpanggil' juga akhirnya buat kembali ngerame-in BLOG kita ( kalah populer sama fesbuk, meskipun dari pageview perhari cukup lumayan--turun lagi minggu-mingu terakhir. Belum mencapai 1500 pageview dalam satu bulan ) tapi gpp, kesibukan kawan-kawan, yang masih malu-malu posting, comment, chat, tampaknya masih lebih banyak dibanding yang mulai 'berani' posting, comment, chat. Sekedar review aja... sekaligus mempertegas, bahwa blog ini adalah milik seluruh alumnus SMA NEGERI CILIMUS, siapapun alumnus boleh koq nulis disini, yang sudah sukses hari ini, tampilkan dong kesuksesan anda, biar jadi contoh buat adik2, yang belom sukses... posting aja, curhat juga boleh...semua gratis, paling tidak postingan anda bisa jadi bahan renungan, syukur2 jadi solusi anda kedepan ( dipinjemin modal usaha sama kawan2 yang udah sukses, tanpa pengembalian, misalnya...ha..ha siapa tahu ?

Nostalgia... ya saya mau sedikit bernostalgia, tentunya nostalgia SMA. Entah buat kawan yang lain, tapi bagi saya, masa SMA koq punya banyak kenangan. 20 tahun lebih sudah berlalu, tapi tetep aja inget, kenal 'cinta monyet' ( meskipun gak pernah tahu gimana monyet bercinta ), belajar 'memberontak' setelah merasa menemukan 'jati diri', ngerjain guru, stress ( sekelas cuma 23 orang cowok semua, tiap hari ngelihat batangan mulu, gak ada pemandangan indah, mainannya rumus fisika, kimia, -- makanya kalo ada guru cewek, apalagi cukup pantas buat di goda, ya di bela-belain gak ngerjain PR atau ulangan, biar bisa ikut ulangan susulan, yang biasanya dilakukan di tempat kost-nya bu guru... ha...ha..) Dan barangkali saya adalah satu-satunya murid yang bisa masuk kelas jam 9 atu 10 dan pulang lebih awal dari teman-teman sekelas tanpa pernah sekalipun kena setrap. Pernah deng sekali kena setrap, pake celana ketat ( dulu diukur pake botol BIR, kalo celana sedang dipake dimasukin botol bir, gak masuk, ya ketat), besoknya celana dirombak total ala cutbray ( jangankan satu botol bir, 3 botol bir juga masuk) malah kena strap lagi--katanya terlalu lebar.. jadi bingung.. padahal calana mah euweuh hubunganana jeung IQ...( maksudna rek make calana ketat jiga cangcuters, atawa cutbray oge moal nambahan pinter atawa bodo...)

Catatan penting masa SMA adalah, bahwa inilah masa-masa pencarian jati diri, bagaimana eksplorasi2 dilakukan, inilah awal2 pembentukan karakter. Saya ada beberapa fakta, mereka yang biasa berorganisasi, bisa menjaga konsistensi belajar, paling tidak hari ini sudah bisa jadi 'orang'. Yang SMA nya menekuni profesi 'playboy' ya...hari ini gak jauh2 amat jadinya. Yang angin-anginan kaya saya, ya tetep aja angin-anginan sampe hari ini ( lain masuk angin ! ). Meskipun tidak semua begitu ( saya sangat terkejut, ketika mendengar kawan lama saya, yang kebetulan menyenangi dunia 'underground' bahkan sempet di keluarkan dari sekolah -- kena kasus narkoba-- sekarang jadi kiyai di Kuningan, dan jadi juragan kain di pasar baru ! )

Jadi begitu kawan2, memang ada takdir yang tidak bisa kita robah, tapi paling tidak -- buat kawan2 yang sudah punya anak SMA -- beri lebih perhatian anda, ini masa-masa bahaya bagi usia mereka. Saya hanya mau bilang, dari nostalgia, kita jadikan bahan renungan buat ke depan. Hidup bukan mas lalu, hidup hari ini kedepan, tapi dengan nostalgia kita bisa prepare buat hari ini ke depan. Faktanya adalah saya...

Bandung, syaqila


Tulisan selanjutnya ketik disini...

Baca Selengkapnya...

POSTING TERBARU

KOMENTAR TERBARU

  © Free Blogger Templates Blogger Theme by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP