TANPA JUDUL
seraut wajah hadir
dengan bingkai rindu di matanya
kusambut hadirnya
dalam serakan rasa yang sama
rindu kita
terpuaskan dalam mimpi
malam tadi
wajah kita
ada di sana
dalam asa yang serupa...
Senin, Oktober 19, 2009
Sabtu, Oktober 17, 2009
PEMBENTUKAN SEBUAH CERPEN
dansa :
Dulu pembentukan sebuah cerpen lazimnya cenderung bertumpu pada alur cerita dan karekteristik yang kuat serta utuh, seseorang menulis cerita karena memang benar-benar memiliki cerita yang ingin di bagikan kepada orang lain. Tetapi sekarang pembentukan sebuah cerpen tidak melulu menyuguhkan cerita, melainkan dapat juga berupa ekpresi situasi tertentu ataupun deskripsi yang berisi pemaparan peristiwa-peristiwa dalam bentuk monolog dan lain-lain. Karena tidak bertumpunya melulu hanya pada cerita, maka cerpen dapat meluas kepada hal ikhwal lain yang mengitari peristiwa dibalik cerita. Cerpen dapat bermula dari teks lain, pencampuran dan peleburan berbagai teks dengan acuan-acuan yang menyebar serta dapat dikaitkan dengan teks-teks lain yang berkenaan ataupun tidak berkenaan dengan cerpen.
bersambung...
DAFTAR PUSTAKA :
Wicaksono Adi, 2009. "Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah Dalam Cerpen".
PENA KENCANA, 2009. "20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009".
Kamis, Oktober 15, 2009
November 2009
HATIKU TAK BERPALING
Berjumpa sebentar
Matamu bercerita
Kau bawa cinta itu
Demikian Aku
Kita jauh
Jasad dipasung takdir
Berontak tak bisa
Duniaku disini
Hati bercerita
Bergetar
Hampa
Nyeri
Kau ada dalam ilusi
Dekat bersamaku
Hatiku tidak berpaling
Sampai napas berhenti
Jika alam berganti kelak
Tidakkan tidak aku ucapkan
Takboleh hilang kedua kali
Aku ingin memiliki
Duh Gusti
by : dansa
Bagian III dari Trilogi Puisi
DE JAVU
Ruang dan waktu cuma sekat..
Pembatas maya buat kita lepaskan rindu..
Aku Masih milikmu....
Fuur : Ceu
Selesai...
Selasa, Oktober 13, 2009
PUTRIKU AKU
Nakita piksi d'Satyavadin, itu nama putriku, ia anak pertama dari satu anak, lahir di rumah sakit islam dibantu oleh tiga dokter spesialis, agak susah memang dia keluar, mungkin karena ia belum siap melihat dan menerima ayahnya. Tentu ia dilahirkan oleh ibunya, dan aku yang memberinya nama itu. Arti nama sangatlah penting bagi orang primitif seperti aku, nama itu akan mempengruhi tabiatnya kelak, setidaknya itulah usahaku untuk memperbaiki keturunan. Walaupun aku tahu bahwa jauh sebelum itu di zaman azoikum ketika di bumi belum ada kehidupan, kitab langit yang terbentang telah mencatat garis kehidupan manusia, dari mulai kapan lahirnya, kapan ajalnya, nasib baik, nasib buruk, dan seterusnya telah dicatat secara rinci dari detik per detiknya.
Tidak terkecuali juga aku, biang keladi dari kelahiran anakku, telah ditentukan didalam kitab langit tentang bagaimanakah peruntungan akak-anakku kelak.
Mbah Jambrong, seorang tua bangka ahli nujum yang bongkok dan nadir pernah menerka-nerka nasib anak-anakku kelak, ia merasa dirinya mengetahui nasib seseorang dari penglihatan indra keenamnya, malah ia pernah berujar padaku empat untaian kalimat dengan empat kali tarikan napasnya yang berat. "Anakmu yang pertama akan menjadi kesatria adiluhung panutan bangsa di bumi pertiwi", mungkin jadi Presiden yang dimaksud Mbah Jambrong. namun sungguh sayang, calon persidenku tidak kusengaja hancur bertepatan dengan peringatan dari malaikat langit lewat mimpiku,ini hari pertama aku diwajibkan mendirikan sholat.
Bisikan yang kedua jelas terngiang ditelingaku,"Anakmu yang kedua akan menjadi kesatria hulubalang kerajaan". Panglima TNI maksudnya barangkali. ucapannya tidak logis, karena bentuk negara ini Republik, bukan kerajaan. Sibongkok tua bangka yang tidak hapal presiden kedua republik ini sedang meracau yang katanya presiden kedua republik ini adalah "Sumanto". Sungguh keterlaluan Yahudi yang satu ini. Keberadaan calon Panglima ini sangat menyiksaku sehingga aku harus berjalan terhuyung-huyung karena beliau kian hari kian bertambah kedigdayaannya, tentu saja dengan senang hati aku rela melepas kepergiannya saat aku mandi siang.
Bisikan yang ketiga dia bilang "Anakku yang ketiga akan menjadi Mentri Riset dan Teknologi". Kali ini dia benar menggambarkan urusan tata negara, entah mengutip dari siaran stasiun radio mana ?, aku tidak tahu. Dan bagian yang inipun lenyap entah kemana, aku tak dapat mengingatnya. Bisikan yang terakhir ini yang menghentakan jantungku, "Anakmu yang ke empat akan merepotkanmu", ujarnya.
Nostradamush kulit gelap ini sedang tidak berpihak padaku, tidakkah dia tahu bahwa senjata pamungkasku tinggal satu lagi, anak panah itu yang melindungi aku untuk menjadi pria yang sempurna.
Semar mesem, semar kuncung, semar kudis, semar rorombeheun. Kulemparkan anak panah itu hingga kelangit ketujuh tempan kitab Bagawatgita berada, yang kelak akan dikembalikan dan berubah wujudnya menjadi seorang gadis yang cantik jelita."Nakita Piksi d'Satyavadin" itulah dia yang tadinya anak panah.
ANAKKU MEWARISI SIFATKU
Dari zaman Joyoboyo telah beredar peribahasa yang berbunyi "AIR CUCURAN ATAP JATUHNYA KEPELIMBAHAN JUA", peribahasa itu mengandung arti bahwa sifat-sifat dari orang tua akan diturunkan pada anak-anaknya. peribahasa itu belum terbantahkan dari zaman dahulu kala hingga sekarang. Jadi bagi para orang tua yang bertabiat jelek, maka bersiaplah jika anaknya kelak akan bertabiat yang sama . Namun jangan dulu takut teman.! itukan peribahasa dulu,dimana orang jaman dulu lingkaran tulang tengkorak otaknya tidak sebesar orang yang hidup dizaman modern. zaman dulu orang hidup memanfaatkan alam, sedangkan jaman sekarang orang hidup mensiasati alam.
Jika peribahas dulu "AIR CUCURAN ATAP JATUNYA KE PELIMBAHAN", maka dijaman sekarang "AIR CUCURAN ATAP JATUH KE TALANG DAN DISALURKAN KEMANAPUN KITA INGINKAN",bisa ke kolam, ke solokan, kepenampungan, atau kemana saja.
Artinya sipat-sipat jelek orang tua tidak harus diturunkan pada anaknya. Bisa saja diturunkan ke tetangga, ke kambimg, atau kemana saja.
Teori ku terbuktilah sudah, anakku tidak seperti aku, tetapi ia melebihi daripada aku. Subhannalloh...sungguh kebesaran Tuhan sedang dipertontonkan kasad dihadapanku.Salah satunya terukir dalam kesehari-harian aku.
Suatu ketika aku menyapa anakku yang sedang duduk.
"hai, Neng sedang apa ?"
"Sedang olah raga Pak" jawabnya,aku kembali menegaskan pandanganku, tetapi benar dia sedang duduk, karena heran aku bertanya kembali.
"Loh, sedang duduk kok jawabnya sedang olah raga ?"
"Udah tahu kok nanya" jawab anakku tanpa mimik muka yang berubah. aku tersenyum lebar-lebar, dalam hatiku bangga, anakku calon pengacara yang handal pikirku.
Lalu aku meminta bantuannya untuk membeli rokok diwarung tetangga dengan imbalan uang.
"Neng, tolong belikan bapak rokok ke warung, nanti diberi upah 1.000 rupiah". pintaku.
"Bapak sajalah yang beli rokoknya, nanti dikasih upah sama Neng 2.000 rupiah". jawabnya sembil tetap duduk.Aku tersenyum lebih lebar lagi, pikirku ia kelak akan jadi pengusaha yang handal, profitable dan survival.
Einstein kecilku ini memang sungguh luar biasa, ia sudah pandai membuat mobil-mobilan dari handphone ku yang baru kubeli dengan kredit, dia sudah bisa membuat pengungkit batu dari raketku merk Hart yang termahal, dia sudah bisa merubah baju menjadi api, ubi menjadi angin.Dia lebih dari mewarisi sipatku.
ARTI NAMA ANAKKU
Lain aku lain pula ibunya, Ia menganggap tabiat anak kami itu sudah kelewatan, kreatifitas dan jiwa inovatif yang kebablasan dari anak kami itu dipandangnya suatu pemborosan. Istriku mengeluh tapi takbisa berbuat apa-apa, ia sudah kehabisan akal untuk membendung kreatifitas Einstein kecilku ini, ia buntu akal untuk menahan pernyataan pedas dari The next Mandela ku ini. Bahkan suatu hari Istriku pernah mengusulkan gagasan yang tidak masuk akal menurutku, "Merubah namanya,! yah..merubah namanya !!". Ibu ini mengenggap nama yang disandang anakku terlalu berat sehingga anaku tidak kuat membawanya, dan akhirnya bertingkah polah yang tidak masuk akal para tetangganya.
Istriku berpendapat bahwa "Nakita Piksi d'Satyavadin" itu nama macam apa ? sama sekali tidak mencerminkan nama seorang Islam yang turun temurun warisan nenekmoyang kami, lagi pula tidaklah pantas dikampung ini ada nama perempuan yang tidak berakhiran "..ah" seperti, Saliah, Mutiah, mardiah, Maemunah, dan lain-lain. Maisaroh sekalipun tetap saja diakhiri dengan konsonan "h".
Kedua kalinya istriku mempertanyakan arti dari nama "Nakita Piksi d'Satyavadin" padaku setelah sekian tahun lamanya. Tentu saja aku sudah lupa alasan itu, tetapi aku berusaha dengan keras mempertahankan dan menerangkan arti dari nama itu sekenanya. Menurutku nama "Nakita" adalah tokoh dari negeri Matahari melek yang dulu sempat jadi penjajah bangsa kita ini, aku berharap kelak anakku dapat memperjuangkan hidup seperti manusia sipit nan pendek itu, dengan Hirohitenya yang merubah etos kerja dan berpikir cepat tanpa kenal menyerah, tapi tidak termasuk Harakirinya loh..!. Lantas apabila kenyataan sekarang anak kita jadi malas?, seperti jauh panggang dari api dengan nama yang disandangnya, tentu bukan salah bunda mengandung tetapi salah aku yang menaruh binatang terkutuk itu.
Alasan nama "d'Satyavadin" adalah arti dari bahasa sansakerta yaitu, "Satya" artinya "berkata" dan "Vadin" (dibaca:wadin) artinya "jujur" yang ditulis dalam huruf valawa.
"'d" naaah.. ini inti dari arti nama anaku," 'd" disitu aku menirukan judul sebuah lagu klasik karya komponis orang Prancis yang namanya aku sudah lupa kawan !,seperti "d'Amor", "Marissa d' Luisha",instrumentnya sangat mendayu-dayu dan bisa meninabobokan. Itu artinya, anakku kelak dapat membahagiakan suami yang dicintainya. Tentang daerah asal "'d" tersebut dari prancis ? tentu semua orang tahu bagaimana dengan kisspranch itu, yang dapat melumpuhkan Adolp Hitler, Napoleon Bonapartte, Napoleon Bocasha, mereka adalah Dazal-dazal abad perang dunia ke II yang bertekuk lutut dibawah ketiak istrinya, bak anjing udik yang dituding majikannya, menggelepar-gelepar takmampu mengagahkan mukanya sambil mengibas-ibaskan ekornya pertanda ketaklukannya. Itulah harapan pada anakku kelak, seorang istri yang tak akan mampuh dilupakan suaminya. itulah sebabnya ibu-ibu yang badannya to mutch (saya tidak mengatakan gemuk loh..!, itu menyinggung perasaan ibu-ibu) untuk bersahabat dengan pil Yasmin, agar badan jadi ramping dan suami jadi nempel terus sehingga anda akan sulit untuk chatting.
Tentang alasan pemberian nama "Pikisi" !, Piksi...?? ya Piksi sajah !!, tidak pakai alasan.
Aku menerangkan kepada istriku panjang lebar, dan istriku diam saja tidak memperjuangkan gagasannya, mungkin karena dia malas melihat mulutku yang sudah berbuih-buih menerangkan, ibarat deterjen yang dituang di air tempayan.
AKU MENGUTUKI DIRIKU
Semburan warna diangkasa yang dilatari deburan troposfer mengukir langit, indah, lugas, jujur dan menakjubkan. Orang udik berkerumun membuang waktu yang tak mereka pahami untuk berbuat apalagi sore ini.
Adzan magrib berkumandang dilolongkan billal kepercayaan kampung kami, indah meresap hingga sampai sumsum tulang belakan, merambat kedalam hati tempat bercokolnya sang penggoda ulung "Om Iblis" laknattullah yang telah bermetamofosis menjadi darah yang mengalir disekujur tubuh manusia,suara adzan menyiramkan iar penawar demi menyadarkan umat Islam untuk mengingat hari setelah kematian kelak.
Orang-orang udik bergegas pergi ke surau untuk menunaikan shalat berjamaah dan mengaji, yang kelak akan jadi pegangan di akhirat dalam melintasi titian serambut dibelah tujuh, yang dibawahnya kobaran api neraka menyala-nyala.
Hingga selepas sholat isya di surau aku pulang kerumah, kudapati Istri dan anakku telah tertidur pulas. Aku duduk dikursi didekat mereka tertidur, sambil mengusap-usap kopeyah hitamku yang telah lusuh dan berlubang, kutancapkan pandanganku pada mereka, mataku nanar berkaca-kaca dan pandangan kosong jauh menerawang keawan dilangit ketujuh, dimana kitab kehidupan kami disimpan dalam genggaman sang penguasa jagat.
Takhenti-hentinya aku mengutuki diriku yang naif ini, dia bidadari-bidadariku (yang satu kecil, dan yang satunya lagi besar) telah menjadi korban kebodohanku. Dia ada karena aku terlampau berani menorehkan tinta pada kitab kehidupan di alam Lohmahpud dahulu, aku yang bersalah tapi mengapa pula kalian yang menanggungnya.
Anakku mewarisi sifat buruk dariku tanpa dia fahami, itu bukan salahmu Nak ! itu salahku. Istriku yang terlampau lelah mengurusi anak dan rumahtangga hingga badanya terasa remuk-redam, itu juga bukan salahmu sayang. Itu salahku, yang engkau pikul padahal tidak kau fahami.
Ya Alloh ya robbul'ijatti, janganlah engkau bebankan pada mereka atas dosa-dosaku dan kebodohanku yang padahal mereka tidak harus menanggungnya, bahagiakanlah mereka dunia dan akhirat, bimbinglah mereka kejalan yang enkau rid'oi, ammiiiinn.
Sampai larut malam aku terus mengutuki diriku, dan tak bosan-bosan aku terus mendo'akan bidadari-bidadariku hingga tak terasa lagi hari telah menjelang subuh.
Tamat.
Bagian II dari trilogi PUISI
Semuanya tentang Cinta...
RINDU
Adakah penawar rindu….
Lantai, meja, dinding…dingin membeku..
Diluar hujan….
Kesunyian menyergap jiwa…
Penjarakan aku dengan cinta…
Kepada siapa harus berkata..
Hati ini sudah mendua…
Teriakan itu pada langit..
Biarkan memantul ke sepenjuru…..
Hingga semua orang tahu…
Lain cita hinggapi kalbu….
Rindu memang milik kita…
Meski hanya memenuhi lorong-lorong dimensi…
Masa lalu…
Fuur : Ceu
Senin, Oktober 12, 2009
Tangkal Jambu
(Teti Fathiyah)
Masih seputar tangkal jambu… banyak sekali cerita .. dari mulai teterekelan jiga tarsan saat masa2 kecil, bari nyebur ka balong. Sebagai gambaran pohon jambu itu tumbuh di sisi kolam ikan yang panjang dahan nya bercabang cabang indah sampai menjulur ke kolam.. jadi kl lagi naik pohon jambu trus ada yang lagi ngojai wah kacipta sok aya nu ngintip nu keur teterekelan. Maklum lah anak2 kecil sok iseng pengen tau tea he he…dah ah tong diterskeun nu eta mah.
Sampai beranjak menjadi remaja ingusan tapi teu meler lhooo…dan bertambah teman karena sudah naek kelas tea ka smp, tangkal jambu ini penuh dengan kenangan. Teman,sahabat bahkan orang2 special pasti ingat kana tangkal jambu ini. Yang merasa punya memory pasti lagi senyum-senyum simpul mengingat masa2 itu. Bagi yang ga punya kenangan daripada bengong menebak2 ada apa gerangan mending ikutan baca aja deh ..he he.
Ternyata pohon jambu nih punya sejuta kenangan yang tak akan habis jika dituliskan.. Sekedar mengingatkan buat yang punya pengalaman.. saat itu yang namanya teti tuh masih polooos, culuun, imut imut (jangan bilang amit2 lho..) sampe2 dah smp juga ga rasa dia tuh msh sprt anak kecil yg polos. Bahkan saat temen2 mulai larak lirik nu kasep cenah iih da eta nu namina teti mah teu ngartos nu kumaha nu kasep teh. Tapiiii justru dialah yang punya banyak cerita. Maklum yang punya tangkal jambu tea he he..
Ini adalah kisah teman se geng .. yang bener2 sama kurus,mungil, tapi imut2 hitam jelek lagi he he kecuali wiwik. Walaupun berambut sedikit berlebih keritingnya, tapi dia putih bersih dan cantik.Cuma rambut aja yg jd bahan senyuman (padahalmah pengen ngakak )komo mun diliatin fotona pasti seusseurian (skrng mah engga kok,cantik kok) etamah dari kecil hingga sekarang emang pang geulisna. Pokokna nu janten bentang seueur nu naksir padahal mah nembe smp..yang naksir juga banyak bahkan sampai anak sma pun pada ngelirik dia. Ta pi sumpah wik kenapa kok dulu ga ngerasa iri ya sama wiwik yg cantik he he.. bahkan kami sebagai temannya bangga punya teman yg cantik juga banyak yang naksir .. jadi kami ikutan deh ngetop bak selebritis he he he..tapi kl disebutin satu satu siapa yg naksir wiwik waaah nanti ada yang protes deh berabe deh urusannya takut ah suaminya polisi ntar ditembak lagi he he... nah salah satunya suka curi2 pandang saat kami ngumpul di bawah pohon jambu itu.. dari kejauhan dia pandang,,pandang tertuju sama yang keriting tea. Kalau saaja si cowok itu ga cerita ke teti pasti sampai saat ini ga tahu kl dia naksir sm wiwik.. tapi sayang dia ga berani mengungkapkan keinginan dan rasanya kepada yang bersangkutan. Dia hanya berani dari kejauhan aja. Baginya cukup memandang dari jauh sudah lega hatinya.. menurutnya dia takut karena kami adalah sekelompok selebritis yang bukan kelasnya… ( padahal kami ga ngerasa gitu lho) .. tapi ya sudah lah salah sendiri kl nyesel karna ga ada keberanian ditolak ya he he.. nah ceritanya mulai dari wiwik ya.. (sok ngambek ge da tebih ieuh )
Namun lain yang menaksir lain lagi yang ditaksir… tanpa disebut namanya … si empat sekawan yang baru kelas satu smp nih punya cerita juga tong ngambek nya wiiik ini cerita kita semua kok yang mungkin jaman ayeuna mah disebut lebay he he..
Ada satu orang yang saat itu mungkin bagi kami menarik ya.. seorang anak 3 sma necis (sebuah sma yang nanti juga akan penuh cerita) sebenarnya dia bukan orang asing bagi kami. Dia sudah cukup kenal dengan kami.. namun karena kami anak perempuan yg memang gengsi kl hrs mengungkapkan kata naksir apalagi sama orangnya langsung yang jaman sekarang mah cewek juga suka nembak duluan he he. Beda jaman dulu mah penuh dengan pura2 padahal mah daek he he…dengan polosnya tiap minggu pagi abis subuh kami pura2 lari pagi lewatin rumah dia, berharap bisa memandang wajahnya yang menurut kami dulu bersahaja.. tapi kl inget sekarang mah amit amiiiiit he hee… tapi ya itulah pikiran anak ingusan.. melihat rumahnya saja sudah deg2an katanya.. apalgi kl dia keluar waaaaaah kami saling bisik bisik itu tuh kaluar aduh kumahanya bade nyarios naon mun pendak ah kita pura2 ga liat aja yuk … dengan ‘sok’ tidak peduli kami meneruskan acara lari pagi sampe pengkolan linggarjati.. saat balik lagi kami berharap ketemu lagi he he he.. dasar yang lagi pura2 tea.. sok lebay nya..dan .. haaay dia menyapa.. wah sontak aja hati kami semua deg deg an padahal yg naksir Cuma wiwik lho kami Cuma jadi ikutan deg2an. Wah rasanya disapa gitu aja rasanya berbunga2.. eeeh ga Cuma nyapa, dia juga ngajak ngobrol.. kami sebagai penonton yang mengawal yang sedang kasmaran jadi ikut sibuk berbasa basi menutupi rasa gundahnya hati wiwik..he he…bla bla bla.. kami pun ngobrol sejenak.. terakhir yang saya ingat dia bilang kamu tuh “caem “ sama wiwik padahal saat itu kami ga tau artinya apa..dengan msh menyisakan tanya kami pun pulang …
Sepanjang jalan kami bahas eeh artina caem teh naon sih.. teuing naon teu terang. Tapi rasa penasaran kami membuat kami terus membahasnya hingga sampailah kita di tempat paporit nyaeta tangkal jambu tea… sambil nerekel metikan jambu trus kami mengunyahnya dengan nikmat… emang jambunya enak sih… tak lepas dari bahasan caem tea.. tanpa pikiran apa2 dengan kepolosannya neng teti nih menunjukan kesungguhannya ingin Bantu mencari tahu.. Tapi dasar si culun tea yang belum punya kaisin tapi jiwa penolongnya dan solidaritasnya yang tinggi besoknya saat ketemu si kaka biasa kami menyebut si cowok itu. Si teti nan polos ini nyeletuk kaka kaka ari caem teh naon siiih… (kali saat itu si kaka ketawa dalam hati dengan terbahak bahak dan pengen bilang dasar budak leutik oooon he he) tapi si kaka menjawab dengan santainya” emang kunaon..” eta tuda kamari kaka nyarios kitu teh teu ngartos “oooh hoyong terang? Caem teh artinya cantik geuliis” mulut mungil ini pun mengucap oooooh dengan panjangnya.. kalo inget jaman dulu isiiin ku polosna he he..
Akhirnya datanglah saat yg ditunggu2. si kaka ini ngirim surat cintanya buat wiwik si cantik yang mempesona ini. Dengan gaya mak comblang teti pun memberikan surat itu kepada wiwik. Dan kami berempat membacanya…how wow.. wow.. isinya seperti yang ditunggu2..dia juga naksir sm wiwik. Tapi dasar anak ingusan ya.. dah datang yang diharapkan eeeh malah bingung naon nya jawabna.. kumaha yeuh mun pendak.. dah ah kepanjangan lagi kl dibahas.. seiring waktu berjalan walau belum ada jawaban kami dan si kaka pun biasa aja ngobrol ngaler ngidul…namun singkat cerita jadian deh tuh si kaka sm wiwik … tapi yang lucu ya.. kl si kaka itu janjian mau datang.. kebetulan markasnya memang di rumah teti..(mungkin kl di rumah wiwik sendiri takut diomelin he he..) yang walau rumahnya sederhana tapi sangat nyaman buat ngumpul2 eeeh 4 sekawan ini kompak bebersih rumah teti.. ada yang nyapu.. ngelap meja.. siapin minum (dalam pikiran teti waah lumayan deh kerjaan gue berkurang ada yg bantuin he he) pokokna kompak mendukung yg lagi kasmaran hanya tuk menyambut kedatangan si kaka ini.. uuuh siapa yang mau ngapel siapa yang sibuk he he kl sekarang pada mau engga ya disuruh nyapu ngepel..he he
Tapi dasar gaya pacaran jaman dulu ya yang pacaran siapa yang ngobrol siapa… kami tuh ikutan nimbrung ngobrol tanpa memberi kesempatan duduk berdua he he kali dalam hati wiwik iiih ngapain sih ikut2an he he.. tapi lama lama kami pun merasa ga enak hati dan tahu diri juga nih akhirnya kami tinggal juga.. dan mereka menuju tangkal jambu… tapi ga macem2 kok karena ada yang ngintipin pacaran lewat jendela ha ha ha… entah apa yang mereka bicarakan tapi kami ikut ketawa2 atau ngetawain ga tau deh..
Kl saja ada obie mesakh lewat pasti dah dibikinin lagu.. malu aku malu sama semut merah yang ada di pohon jambu di depan rumah teti…. Kumaha nya nynyina mun kitu… sok lah pang ngarangkeun…
Duuh masa mau diceritain semua.. jangan deh nanti ketahuan.. sok bae terusin ceritanya menurut keyakinan masing2… ( mau nyambung?)
Minggu, Oktober 11, 2009
MATAMU BICARA BANYAK
Matamu bicara banyak ketika sekilas kita bertemu
Tentang Rindu
Tentang Cinta
Tentang Sakit Hati
Lalu kenapa jadi gundah gulana
Setelah lama tidak berjumpa
Matamu bicara banyak ketika sekilas kita bertemu
Tentang Rindu
Tentang Cinta
Tentang Sakit Hati
Lalu kenapa tak jua bertemu
Sekedar untuk berbagi cerita
Salahkan waktu karena tidak mau berjalan mundur
Salahkan Takdir karena tidak mau persatukan kita
Sebab Hati selalu jujur berkata
Aku masih Cinta Padamu..
Fuur : Ceu
Jumat, Oktober 09, 2009
4 SEKAWAN
(Teti Fathiyah '89)
Ragu ragu tuk menulisnya…. Bingung…naon nu bade diserat….
Tapi… coba aja deh bikin cocoretan siapa tahu jadi cerita yang bikin orang tertawa.. daripada cemberut … atau malah cemberut setelah baca cerita ini.. yaaah keun wae lah.. pokokna mah mencoba ..dan mencoba.. untuk berbagi cerita… tanpa dialog…
Berawal dari sebuah pertemanan kami 4 anak kecil yang imut-imut, luthu, culuuun, polooos pisan,sesuai dengan sifat dan karakter anak2 jaman baheula yang ga tau kana gaya… seperti anak sekarang yang kecil2 dah pandai bergaya nan cantik bak bidadari… wah tebiiih pisan bentenna.
Candanya..cerianya..polosnya.. seakan tanpa beban tertawa lepas bebas serasa dunia ini milik kami sendiri.. tiap pagi berangkat sekolah pasampeur sampeur, sekolahnya juga Cuma berangkat,belajar dan bubar. Tanpa berfikir pulang sekolah harus les ini les itu (jiga barudak ayeuna dijejelan ku sagala rupa les) pokokna mah bebas aja..
Tiap pulang sekolah berjalan rame-rame walaupun lumayan jauh (dulu mah lom ada yg dijemput motor komo mobil mah) sambil lari-larian…kejar-kejaran… duh bahagianya mengingat keceriaan kami..
Seringkali tiap pulang sekolah tanpa menanggalkan baju seragam yang Cuma satu-satunya kami langsung aja bermain … mainnya juga sorabi2an dibuat dari tanah yang dicetak2 sama campur mie.. ( yang diambil dari pohon merambat warna kuning seperti mie naon namina nya…) main begitu juga dah seneng banget. Da jaman baheula mah boro2 aya mainan bagus komo Barbie mah teu kenal2 acan.. Apalagi mainnya di tempat paporit dibawah pohon jambu pinggireun balong di sebuah rumah sederhana di blok 3 balangko desa
Pokokna mah setiap hari nongkrong
Tapi semua keceriaan ini sayang sekali ya tidak dimiliki anak2 sekarang yang nonrongnya di depan computer, main ps, tv deui tv deui… ga ada yang seru…selain tangannya yang asyik berkutat mencetan huruf2 yg ada di keyboard..
Dulu sih teterekelan dina tangkal jambu… babancetan.. enengan.. bebentengan… waah masih pada inget ga ya…
Setelah puas bermain dengan keadaan yang kotor dan kummel tanpa segan tanpa ragu tanpa kaisin (mun ayeuna mah isin meureun) kami langsung menaggalkan apa yang menempel di badan kami…buka baju (iiiih bukan porno lho….maklum budak leutik kelas 4) kami berempat langsung nyebur ka balong… padahal eta bukan kolam renang hanya kolam ikan yang penuh leutak tapi cukup luas cukup untuk kami ngojay…waah suegerrr. Ih mun inget ayeuna mah jorok he he… tapi jaman dulu mah ngojay di kolam ikan ge serasa ngojay di cibulan…
Kebiasaan itu berlangsung dari hari kehari… bulan ke bulan.. tahun ke tahun… tanpa terasa saat itu kami sudah beranjak ‘rada gede’ nyampe juga kelas 6. Tapi maklum budak kampung jaman baheula kelas 6 ge tetep aja santai ga tersiksa mikirin belajar ataupun les di bimbel paporit (tacan aya) pikirannya maiiin terus.
Sampai pada suatu hari sepulang sekolah kami janjian untuk berkumpul di rmh salah seorang teman kami sambil membawa bekal seadanya.. dengan
Dengan santainya kami gelar tiker dan membuka perbekalan yg kami bawa ( teu pira Cuma nasi,sambel,sama lauk asin) tapi rasana nikmat bae da boro2 aya fried chicken mah can usum… sambil menikmati bekal kami pun dg asyiknya memandang pemandangan di bawah munjul yang indah… rumah2 berjejeran terlihat dari atas.. jalan raya caracaspun terlihat jelas.
Sedang asyik memandang pemandangan,pandangan kami tertuju pada sebuah rumah… rumah teman kami yg sudah pindah ke daerah lain… tiba2 keluar seorang ibu.. dan entah kenapa si ibu itu pun melihat kami dari bawah
Akhirnya sampai juga di rumah ibu teman kami yang bernama Euis (sekarang gat au ada dimana). Tanpa basa basi si ibu yang baik ini mengajak kami ke palimanan ke rumah barunya. Tanpa mempedulikan Napas yang tersengal sengal karena balapan turun… kamipun setuju aja.. (maklum dlm pikiran kami horeeee seneng pisan diajak jalan2 naik mobil bagus, maklum jaman dulu naik mobil teh asa mewah pisan)
Dasar anak2 ya tanpa izin kepada orang tua kami pun ikut ke palimanan . ngeeeeng mobil pun melaju… pendek kata sampailah kami di palimanan bertemu dengan Euis . Euiiiiiiis teriak kami sambil bersalaman dan lansung asyik bermain … waaah dengan polosnya kami melihat rumah yang memang bagus pada saat itu mewah deh.. ditemani kue kue diatas meja.. minumnya sirup. Duuuh sirup teh jaman baheula mah asa pang enakna… dah saking asyiknya lupa alias ga mikir kana waktu yang semakin sore…..
Sementara itu….. ada apa di
Heboooooh….ada sebuah kehebohan di
Hampir aja putus asa mau nyari orang pinter bikin bubur merah bubur putih, ayam hideung ayam putih… heuuuh judulna mah heboh bae para ortu kami…. Nyari budak 4 ga ketemu juga….
Kembali lagi ke palimanan tanpa memikirkan orang sekampung yg sedang panic paciweuh milarian budak nu leungit …eeeh si bocah kecil nih masih asyik aja main… ga mikirin waktu…komo inget pulang mah teu mikir pisan.
Soalnya dah sibuk dengan boneka2 yang pada waktu itu kami ga punya.. paling2 kami bikin wawayangan dapi pohon sampeu dipilin2 jadilah wayang..
Sambil rambut kami pun suka dikeriting pakai tangkai daun sampeu tea.. padahal mah satu diantara kami ada yang memang udah keriting asli . bayangin aja jadinya kayak apa.. tambah kriboo he he… ( nu nuju maca tong ambek nya he he…..)
Akhirnya tiba juga saat pulang.. ke ameng deui nya… kata uis sebagai kata perpisahan dadaaaaah.
Kamipun melaju kembali ke desa
Turun di pengkolan
Namun dengan polosnya dan tanpa dosa kami menjawab tos ameng ti bumi euis diajak ku mamina euis ka palimanan.. iiih resep teh mih ….rompokna sae.. kuehna raos.. emuhna sirop .. seueur boneka … naek mobil sae…
Kabayang deh muka2 polos anak jaman dulu…
Kali waktu itu orang tua gemeeees pisan saking keselna nyari kaditu kadieu..tp ditahan… eeeh anaknya lagi main2 enak enakan ya.. tanpa mikir perasaan ortu… maafin kami ya miiih …
Akhirnya dengan bangganya kami perkenalkan 4 sekawan ini dengan nama TEKI Singkatan dari nama2 kami TETI – EEN – WIWIK – WIWI yang sampai saat ini personelnya masih lengkap walaupun jarang ketemu… namun kami tetep inget akan cerita ini…
He he he inget kejadian itu ayeuna mah seuseurian baik si mimih atupun kami sbgi anak nya… teu dicarekan deui…
Yaah kejadian yang ngeselin pada jaman baheula sekarang mah jadi bahan guyonan. Wiwik…een.wiwi..masih inget
Yaaah lumayan deh buat ngadongeng ka anak2 yang kebetulan masih kecil2… yang tidak pernah ngalamin pengalaman kami yang cukup menghebohkan.. yang mungkin kl kejadiannya terjadi sekarang pasti dah lapor polisi…. ( bersambung )
Baca Selengkapnya...
Kamis, Oktober 08, 2009
HARTI oh HARTI
Sebetulnya aku berteman dengan Teti, aku mengenalnya sejak SMP dulu, satu Almamater dengan ku dan kami tergabung dalam Uni orang-orang bandel, sekarang kami dipertemukan lagi satu SMA. Mungkin tuhan masih punya rencana yang tersembunyi untuku, atau barang kali petualangan kami harus diawali lagi dari sini dalam kemasan yang berbeda, dimana sekarang keadan kami sudah meningkat dari banyak hal. Kelas II aku diperkenalkan dengan teman-temannya Harti dan Susi, tiga cewek jagoan ini sudah tidak asing lagi di sekolah kami, dari kelas I hingga kelas III semua paham dengan mereka, terutama Teti yang bertubuh aduhai, rambut lurus panjang melewati bahu, pakaian bergaya modern bak orang Jakarta. Tetapi mataku sudah padat melihatnya sedari SMP, orang lain banyak memuji dirinya itu karena mata mereka tidak terlatih untuk mencari sesuatu yang unik, sesuatu yang bernilai mahal. Intan yang berkilau-kilau seberat 8 kg, mutiara yang berkilat bila disiram cahaya sebanyak 2 karung tidaklah lebih mahal dibandingkan dengan safir biru berbentuk hati milik Nona Ross yang ditenggarai tenggelam didasar samudra bersama jasadnya dalam kapal Titanic, setidak-tidaknya itulah pandangan hidup ku saat itu. Kuulurkan tangan ku sembari aku menyebutkan namaku dan ia menyebutkan namanya, lalu giliran orang yang satu lagi mengulurkan tangannya padaku, aku memandang matanya barang beberapa detik lalu kujabat jemari tangannya (tentu bukan jempol semua) sambil melapalkan namanya ia tersenyum "Harti", katanya Harti namanya...
