Senin, Oktober 19, 2009

TANPA JUDUL

seraut wajah hadir
dengan bingkai rindu di matanya
kusambut hadirnya
dalam serakan rasa yang sama

rindu kita
terpuaskan dalam mimpi
malam tadi

wajah kita
ada di sana
dalam asa yang serupa...

Baca Selengkapnya...

Sabtu, Oktober 17, 2009

PEMBENTUKAN SEBUAH CERPEN



dansa :

Dulu pembentukan sebuah cerpen lazimnya cenderung bertumpu pada alur cerita dan karekteristik yang kuat serta utuh, seseorang menulis cerita karena memang benar-benar memiliki cerita yang ingin di bagikan kepada orang lain. Tetapi sekarang pembentukan sebuah cerpen tidak melulu menyuguhkan cerita, melainkan dapat juga berupa ekpresi situasi tertentu ataupun deskripsi yang berisi pemaparan peristiwa-peristiwa dalam bentuk monolog dan lain-lain. Karena tidak bertumpunya melulu hanya pada cerita, maka cerpen dapat meluas kepada hal ikhwal lain yang mengitari peristiwa dibalik cerita. Cerpen dapat bermula dari teks lain, pencampuran dan peleburan berbagai teks dengan acuan-acuan yang menyebar serta dapat dikaitkan dengan teks-teks lain yang berkenaan ataupun tidak berkenaan dengan cerpen.

Gejala pengembangan pembentukan cerpen di Indonesia itu akan lebih jelas terlihat dalam pertunjukan teater atau seni rupa dalam era duapuluh tahun terakhir. Sepertinya beberapa pertunjukan teater dan seni tari tidak lagi bertumpu pada manusia sebagai suatu "sosok karakter" yang utuh dan menjadi pusat cerita, melainkan pada rangkaian peristiwa, komposisi ruang dan permainan visual. Disitu tubuh dan gerak tidak lagi menjadi pusat pertunjukan melainkan hanya bagian dari susunan ruang dan bangun visual yang di bentuk di atas panggung. Dalam susunan ruang dan bangun tersebut terdapat berbagi peristiwa acak, terpotong-potong, seperti fragmen-fragmen yang seolah-olah tidak lagi memiliki struktur yang utuh. dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain meloncat-loncat tidak beraturan.Bahkan terkadang dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lainnya tidak terdapat kaitanya sama sekali. Bahkan kita seperti sedang berhadapan dengan percampur adukan segala absurd, kontradiktif, paradoksal, hamburan simulacrum, tumpukan budaya massa, berbagai kebrutalan dunia impersonal dampak politik, kapitalisme, fundamentalisme agama, anarki dan sekaligus omong kosong. Pementasan teater itu seolah-olah hendak menunjukan bahwa saat sekarang ini kian sulit menyusun manusia dalam sosoknya yang utuh.Modernisasi yang telah menemukan manusia sebagai subjek yang utuh dan otonom teryata justru menghancurkan si subjek itu sendiri.Kini manusia hanya dapat disusun dari serpihan-serpihan sejarah, sebagai fragmen-fragmen. Dan manusia yang fragmentatif itu sekarang hidup dalam dunia yang terpacah-pecah pula. Maka tidak mengherankan jika seniman teater dan tari justru ingin menampilkan potongan-potongan ruang dan imanji-imaji visual karena memang demikianlah kondisi manusia dan dunia yang mereka saksikan saat ini.

Dari deskripsi perihal gejala yang berlangsung dalam bidang seni pertunjukan dan seni rupa tersebut, saya ingin mengatakan bahwa dalam proses menikmati karya seni, dalam hal ini proses membangun atau membaca sebuah cerpen terkadang kita tidak perlu mengharapkan "cerita" atau berbagai peristiwa di sekitar cerita beserta karakteristik tokohnya yang gamblang, bulat dan utuh, melainkan dapat dengan cara lain yakni menikmati kalimat-kalimatnya, imajeri-imajeri yang dibuka oleh teks, atau menyentuh bentuk-bentuk deskripsinya. Beberapa cerpen menuntut saya untuk menikmati teks sebagaimana saya berhadapan dengan beberapa gejala yang berlangsung dalam seni pertunjukan dan seni rupa, dimana "proses" perjumpaan dengan elemen-elemen yang membentuk karya tersebut terkadang lebih penting dan lebih mengasyikkan ketimbang mencari suatu "Hasil".

Menikmati pencampuradukan yang memesona dari berbagai kemungkinan representasi dan penggambaran sebuah situasi ruang yang sangat rinci dengan bentuk penuturan yang konyol dan humoris seperti dalam cerpen "ANAKKU AKU" karya dansa , dan kalimat-kalimat panjang yang bersayap-sayap serta penyisipan metafora disana-sini juga dalam cerpen karya Dansa yang berjudul "HARTI OH HARTI", kadang lebih ngasyikan membuatnya ketimbang mencari alur dan karakteristik tokoh-tokohnya.Sebagai mana telah dituturkan dalam cerpen tersebut yang tidak menyuguhkan "cerita" yang gamblang, bulat dan utuh, melainkan hanya berbagai lekuk dan liku penuturan yang bermacam-macam.

bersambung...


DAFTAR PUSTAKA :

Wicaksono Adi, 2009. "Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah Dalam Cerpen".
PENA KENCANA, 2009. "20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009".

Baca Selengkapnya...

Kamis, Oktober 15, 2009

November 2009


HATIKU TAK BERPALING

Berjumpa sebentar
Matamu bercerita
Kau bawa cinta itu

Demikian Aku
Kita jauh

Jasad dipasung takdir
Berontak tak bisa
Duniaku disini

Hati bercerita
Bergetar
Hampa
Nyeri

Kau ada dalam ilusi
Dekat bersamaku
Hatiku tidak berpaling
Sampai napas berhenti

Jika alam berganti kelak
Tidakkan tidak aku ucapkan
Takboleh hilang kedua kali
Aku ingin memiliki
Duh Gusti




by : dansa



Baca Selengkapnya...

Bagian III dari Trilogi Puisi

DE JAVU


Ruang dan waktu cuma sekat..
Pembatas maya buat kita lepaskan rindu..
Aku Masih milikmu....


Fuur : Ceu

Selesai...

Baca Selengkapnya...

Selasa, Oktober 13, 2009

PUTRIKU AKU



by dansa,:


Nakita piksi d'Satyavadin, itu nama putriku, ia anak pertama dari satu anak, lahir di rumah sakit islam dibantu oleh tiga dokter spesialis, agak susah memang dia keluar, mungkin karena ia belum siap melihat dan menerima ayahnya. Tentu ia dilahirkan oleh ibunya, dan aku yang memberinya nama itu. Arti nama sangatlah penting bagi orang primitif seperti aku, nama itu akan mempengruhi tabiatnya kelak, setidaknya itulah usahaku untuk memperbaiki keturunan. Walaupun aku tahu bahwa jauh sebelum itu di zaman azoikum ketika di bumi belum ada kehidupan, kitab langit yang terbentang telah mencatat garis kehidupan manusia, dari mulai kapan lahirnya, kapan ajalnya, nasib baik, nasib buruk, dan seterusnya telah dicatat secara rinci dari detik per detiknya.
Tidak terkecuali juga aku, biang keladi dari kelahiran anakku, telah ditentukan didalam kitab langit tentang bagaimanakah peruntungan akak-anakku kelak.
Mbah Jambrong, seorang tua bangka ahli nujum yang bongkok dan nadir pernah menerka-nerka nasib anak-anakku kelak, ia merasa dirinya mengetahui nasib seseorang dari penglihatan indra keenamnya, malah ia pernah berujar padaku empat untaian kalimat dengan empat kali tarikan napasnya yang berat. "Anakmu yang pertama akan menjadi kesatria adiluhung panutan bangsa di bumi pertiwi", mungkin jadi Presiden yang dimaksud Mbah Jambrong. namun sungguh sayang, calon persidenku tidak kusengaja hancur bertepatan dengan peringatan dari malaikat langit lewat mimpiku,ini hari pertama aku diwajibkan mendirikan sholat.
Bisikan yang kedua jelas terngiang ditelingaku,"Anakmu yang kedua akan menjadi kesatria hulubalang kerajaan". Panglima TNI maksudnya barangkali. ucapannya tidak logis, karena bentuk negara ini Republik, bukan kerajaan. Sibongkok tua bangka yang tidak hapal presiden kedua republik ini sedang meracau yang katanya presiden kedua republik ini adalah "Sumanto". Sungguh keterlaluan Yahudi yang satu ini. Keberadaan calon Panglima ini sangat menyiksaku sehingga aku harus berjalan terhuyung-huyung karena beliau kian hari kian bertambah kedigdayaannya, tentu saja dengan senang hati aku rela melepas kepergiannya saat aku mandi siang.
Bisikan yang ketiga dia bilang "Anakku yang ketiga akan menjadi Mentri Riset dan Teknologi". Kali ini dia benar menggambarkan urusan tata negara, entah mengutip dari siaran stasiun radio mana ?, aku tidak tahu. Dan bagian yang inipun lenyap entah kemana, aku tak dapat mengingatnya. Bisikan yang terakhir ini yang menghentakan jantungku, "Anakmu yang ke empat akan merepotkanmu", ujarnya.
Nostradamush kulit gelap ini sedang tidak berpihak padaku, tidakkah dia tahu bahwa senjata pamungkasku tinggal satu lagi, anak panah itu yang melindungi aku untuk menjadi pria yang sempurna.
Semar mesem, semar kuncung, semar kudis, semar rorombeheun. Kulemparkan anak panah itu hingga kelangit ketujuh tempan kitab Bagawatgita berada, yang kelak akan dikembalikan dan berubah wujudnya menjadi seorang gadis yang cantik jelita."Nakita Piksi d'Satyavadin" itulah dia yang tadinya anak panah.

ANAKKU MEWARISI SIFATKU
Dari zaman Joyoboyo telah beredar peribahasa yang berbunyi "AIR CUCURAN ATAP JATUHNYA KEPELIMBAHAN JUA", peribahasa itu mengandung arti bahwa sifat-sifat dari orang tua akan diturunkan pada anak-anaknya. peribahasa itu belum terbantahkan dari zaman dahulu kala hingga sekarang. Jadi bagi para orang tua yang bertabiat jelek, maka bersiaplah jika anaknya kelak akan bertabiat yang sama . Namun jangan dulu takut teman.! itukan peribahasa dulu,dimana orang jaman dulu lingkaran tulang tengkorak otaknya tidak sebesar orang yang hidup dizaman modern. zaman dulu orang hidup memanfaatkan alam, sedangkan jaman sekarang orang hidup mensiasati alam.
Jika peribahas dulu "AIR CUCURAN ATAP JATUNYA KE PELIMBAHAN", maka dijaman sekarang "AIR CUCURAN ATAP JATUH KE TALANG DAN DISALURKAN KEMANAPUN KITA INGINKAN",bisa ke kolam, ke solokan, kepenampungan, atau kemana saja.
Artinya sipat-sipat jelek orang tua tidak harus diturunkan pada anaknya. Bisa saja diturunkan ke tetangga, ke kambimg, atau kemana saja.
Teori ku terbuktilah sudah, anakku tidak seperti aku, tetapi ia melebihi daripada aku. Subhannalloh...sungguh kebesaran Tuhan sedang dipertontonkan kasad dihadapanku.Salah satunya terukir dalam kesehari-harian aku.
Suatu ketika aku menyapa anakku yang sedang duduk.
"hai, Neng sedang apa ?"
"Sedang olah raga Pak" jawabnya,aku kembali menegaskan pandanganku, tetapi benar dia sedang duduk, karena heran aku bertanya kembali.
"Loh, sedang duduk kok jawabnya sedang olah raga ?"
"Udah tahu kok nanya" jawab anakku tanpa mimik muka yang berubah. aku tersenyum lebar-lebar, dalam hatiku bangga, anakku calon pengacara yang handal pikirku.
Lalu aku meminta bantuannya untuk membeli rokok diwarung tetangga dengan imbalan uang.
"Neng, tolong belikan bapak rokok ke warung, nanti diberi upah 1.000 rupiah". pintaku.
"Bapak sajalah yang beli rokoknya, nanti dikasih upah sama Neng 2.000 rupiah". jawabnya sembil tetap duduk.Aku tersenyum lebih lebar lagi, pikirku ia kelak akan jadi pengusaha yang handal, profitable dan survival.

Anaku ini tidak pernah setuju dengan kebijakanku untuk memberinya adik kecil, alasannya sederhana saja, bahwa dia takut gagal jadi anak tunggal.
Einstein kecilku ini memang sungguh luar biasa, ia sudah pandai membuat mobil-mobilan dari handphone ku yang baru kubeli dengan kredit, dia sudah bisa membuat pengungkit batu dari raketku merk Hart yang termahal, dia sudah bisa merubah baju menjadi api, ubi menjadi angin.Dia lebih dari mewarisi sipatku.

ARTI NAMA ANAKKU
Lain aku lain pula ibunya, Ia menganggap tabiat anak kami itu sudah kelewatan, kreatifitas dan jiwa inovatif yang kebablasan dari anak kami itu dipandangnya suatu pemborosan. Istriku mengeluh tapi takbisa berbuat apa-apa, ia sudah kehabisan akal untuk membendung kreatifitas Einstein kecilku ini, ia buntu akal untuk menahan pernyataan pedas dari The next Mandela ku ini. Bahkan suatu hari Istriku pernah mengusulkan gagasan yang tidak masuk akal menurutku, "Merubah namanya,! yah..merubah namanya !!". Ibu ini mengenggap nama yang disandang anakku terlalu berat sehingga anaku tidak kuat membawanya, dan akhirnya bertingkah polah yang tidak masuk akal para tetangganya.
Istriku berpendapat bahwa "Nakita Piksi d'Satyavadin" itu nama macam apa ? sama sekali tidak mencerminkan nama seorang Islam yang turun temurun warisan nenekmoyang kami, lagi pula tidaklah pantas dikampung ini ada nama perempuan yang tidak berakhiran "..ah" seperti, Saliah, Mutiah, mardiah, Maemunah, dan lain-lain. Maisaroh sekalipun tetap saja diakhiri dengan konsonan "h".
Kedua kalinya istriku mempertanyakan arti dari nama "Nakita Piksi d'Satyavadin" padaku setelah sekian tahun lamanya. Tentu saja aku sudah lupa alasan itu, tetapi aku berusaha dengan keras mempertahankan dan menerangkan arti dari nama itu sekenanya. Menurutku nama "Nakita" adalah tokoh dari negeri Matahari melek yang dulu sempat jadi penjajah bangsa kita ini, aku berharap kelak anakku dapat memperjuangkan hidup seperti manusia sipit nan pendek itu, dengan Hirohitenya yang merubah etos kerja dan berpikir cepat tanpa kenal menyerah, tapi tidak termasuk Harakirinya loh..!. Lantas apabila kenyataan sekarang anak kita jadi malas?, seperti jauh panggang dari api dengan nama yang disandangnya, tentu bukan salah bunda mengandung tetapi salah aku yang menaruh binatang terkutuk itu.
Alasan nama "d'Satyavadin" adalah arti dari bahasa sansakerta yaitu, "Satya" artinya "berkata" dan "Vadin" (dibaca:wadin) artinya "jujur" yang ditulis dalam huruf valawa.
"'d" naaah.. ini inti dari arti nama anaku," 'd" disitu aku menirukan judul sebuah lagu klasik karya komponis orang Prancis yang namanya aku sudah lupa kawan !,seperti "d'Amor", "Marissa d' Luisha",instrumentnya sangat mendayu-dayu dan bisa meninabobokan. Itu artinya, anakku kelak dapat membahagiakan suami yang dicintainya. Tentang daerah asal "'d" tersebut dari prancis ? tentu semua orang tahu bagaimana dengan kisspranch itu, yang dapat melumpuhkan Adolp Hitler, Napoleon Bonapartte, Napoleon Bocasha, mereka adalah Dazal-dazal abad perang dunia ke II yang bertekuk lutut dibawah ketiak istrinya, bak anjing udik yang dituding majikannya, menggelepar-gelepar takmampu mengagahkan mukanya sambil mengibas-ibaskan ekornya pertanda ketaklukannya. Itulah harapan pada anakku kelak, seorang istri yang tak akan mampuh dilupakan suaminya. itulah sebabnya ibu-ibu yang badannya to mutch (saya tidak mengatakan gemuk loh..!, itu menyinggung perasaan ibu-ibu) untuk bersahabat dengan pil Yasmin, agar badan jadi ramping dan suami jadi nempel terus sehingga anda akan sulit untuk chatting.
Tentang alasan pemberian nama "Pikisi" !, Piksi...?? ya Piksi sajah !!, tidak pakai alasan.
Aku menerangkan kepada istriku panjang lebar, dan istriku diam saja tidak memperjuangkan gagasannya, mungkin karena dia malas melihat mulutku yang sudah berbuih-buih menerangkan, ibarat deterjen yang dituang di air tempayan.

AKU MENGUTUKI DIRIKU
Semburan warna diangkasa yang dilatari deburan troposfer mengukir langit, indah, lugas, jujur dan menakjubkan. Orang udik berkerumun membuang waktu yang tak mereka pahami untuk berbuat apalagi sore ini.
Adzan magrib berkumandang dilolongkan billal kepercayaan kampung kami, indah meresap hingga sampai sumsum tulang belakan, merambat kedalam hati tempat bercokolnya sang penggoda ulung "Om Iblis" laknattullah yang telah bermetamofosis menjadi darah yang mengalir disekujur tubuh manusia,suara adzan menyiramkan iar penawar demi menyadarkan umat Islam untuk mengingat hari setelah kematian kelak.
Orang-orang udik bergegas pergi ke surau untuk menunaikan shalat berjamaah dan mengaji, yang kelak akan jadi pegangan di akhirat dalam melintasi titian serambut dibelah tujuh, yang dibawahnya kobaran api neraka menyala-nyala.
Hingga selepas sholat isya di surau aku pulang kerumah, kudapati Istri dan anakku telah tertidur pulas. Aku duduk dikursi didekat mereka tertidur, sambil mengusap-usap kopeyah hitamku yang telah lusuh dan berlubang, kutancapkan pandanganku pada mereka, mataku nanar berkaca-kaca dan pandangan kosong jauh menerawang keawan dilangit ketujuh, dimana kitab kehidupan kami disimpan dalam genggaman sang penguasa jagat.
Takhenti-hentinya aku mengutuki diriku yang naif ini, dia bidadari-bidadariku (yang satu kecil, dan yang satunya lagi besar) telah menjadi korban kebodohanku. Dia ada karena aku terlampau berani menorehkan tinta pada kitab kehidupan di alam Lohmahpud dahulu, aku yang bersalah tapi mengapa pula kalian yang menanggungnya.
Anakku mewarisi sifat buruk dariku tanpa dia fahami, itu bukan salahmu Nak ! itu salahku. Istriku yang terlampau lelah mengurusi anak dan rumahtangga hingga badanya terasa remuk-redam, itu juga bukan salahmu sayang. Itu salahku, yang engkau pikul padahal tidak kau fahami.
Ya Alloh ya robbul'ijatti, janganlah engkau bebankan pada mereka atas dosa-dosaku dan kebodohanku yang padahal mereka tidak harus menanggungnya, bahagiakanlah mereka dunia dan akhirat, bimbinglah mereka kejalan yang enkau rid'oi, ammiiiinn.
Sampai larut malam aku terus mengutuki diriku, dan tak bosan-bosan aku terus mendo'akan bidadari-bidadariku hingga tak terasa lagi hari telah menjelang subuh.

Tamat.

Baca Selengkapnya...

Bagian II dari trilogi PUISI
Semuanya tentang Cinta...


RINDU


Adakah penawar rindu….
Lantai, meja, dinding…dingin membeku..
Diluar hujan….

Kesunyian menyergap jiwa…
Penjarakan aku dengan cinta…
Kepada siapa harus berkata..
Hati ini sudah mendua…

Teriakan itu pada langit..
Biarkan memantul ke sepenjuru…..
Hingga semua orang tahu…
Lain cita hinggapi kalbu….

Rindu memang milik kita…
Meski hanya memenuhi lorong-lorong dimensi…
Masa lalu…


Fuur : Ceu

Baca Selengkapnya...

Senin, Oktober 12, 2009

Tangkal Jambu

(Teti Fathiyah)

Masih seputar tangkal jambu… banyak sekali cerita .. dari mulai teterekelan jiga tarsan saat masa2 kecil, bari nyebur ka balong. Sebagai gambaran pohon jambu itu tumbuh di sisi kolam ikan yang panjang dahan nya bercabang cabang indah sampai menjulur ke kolam.. jadi kl lagi naik pohon jambu trus ada yang lagi ngojai wah kacipta sok aya nu ngintip nu keur teterekelan. Maklum lah anak2 kecil sok iseng pengen tau tea he he…dah ah tong diterskeun nu eta mah.
Sampai beranjak menjadi remaja ingusan tapi teu meler lhooo…dan bertambah teman karena sudah naek kelas tea ka smp, tangkal jambu ini penuh dengan kenangan. Teman,sahabat bahkan orang2 special pasti ingat kana tangkal jambu ini. Yang merasa punya memory pasti lagi senyum-senyum simpul mengingat masa2 itu. Bagi yang ga punya kenangan daripada bengong menebak2 ada apa gerangan mending ikutan baca aja deh ..he he.
Ternyata pohon jambu nih punya sejuta kenangan yang tak akan habis jika dituliskan.. Sekedar mengingatkan buat yang punya pengalaman.. saat itu yang namanya teti tuh masih polooos, culuun, imut imut (jangan bilang amit2 lho..) sampe2 dah smp juga ga rasa dia tuh msh sprt anak kecil yg polos. Bahkan saat temen2 mulai larak lirik nu kasep cenah iih da eta nu namina teti mah teu ngartos nu kumaha nu kasep teh. Tapiiii justru dialah yang punya banyak cerita. Maklum yang punya tangkal jambu tea he he..
Ini adalah kisah teman se geng .. yang bener2 sama kurus,mungil, tapi imut2 hitam jelek lagi he he kecuali wiwik. Walaupun berambut sedikit berlebih keritingnya, tapi dia putih bersih dan cantik.Cuma rambut aja yg jd bahan senyuman (padahalmah pengen ngakak )komo mun diliatin fotona pasti seusseurian (skrng mah engga kok,cantik kok) etamah dari kecil hingga sekarang emang pang geulisna. Pokokna nu janten bentang seueur nu naksir padahal mah nembe smp..yang naksir juga banyak bahkan sampai anak sma pun pada ngelirik dia. Ta pi sumpah wik kenapa kok dulu ga ngerasa iri ya sama wiwik yg cantik he he.. bahkan kami sebagai temannya bangga punya teman yg cantik juga banyak yang naksir .. jadi kami ikutan deh ngetop bak selebritis he he he..tapi kl disebutin satu satu siapa yg naksir wiwik waaah nanti ada yang protes deh berabe deh urusannya takut ah suaminya polisi ntar ditembak lagi he he... nah salah satunya suka curi2 pandang saat kami ngumpul di bawah pohon jambu itu.. dari kejauhan dia pandang,,pandang tertuju sama yang keriting tea. Kalau saaja si cowok itu ga cerita ke teti pasti sampai saat ini ga tahu kl dia naksir sm wiwik.. tapi sayang dia ga berani mengungkapkan keinginan dan rasanya kepada yang bersangkutan. Dia hanya berani dari kejauhan aja. Baginya cukup memandang dari jauh sudah lega hatinya.. menurutnya dia takut karena kami adalah sekelompok selebritis yang bukan kelasnya… ( padahal kami ga ngerasa gitu lho) .. tapi ya sudah lah salah sendiri kl nyesel karna ga ada keberanian ditolak ya he he.. nah ceritanya mulai dari wiwik ya.. (sok ngambek ge da tebih ieuh )
Namun lain yang menaksir lain lagi yang ditaksir… tanpa disebut namanya … si empat sekawan yang baru kelas satu smp nih punya cerita juga tong ngambek nya wiiik ini cerita kita semua kok yang mungkin jaman ayeuna mah disebut lebay he he..
Ada satu orang yang saat itu mungkin bagi kami menarik ya.. seorang anak 3 sma necis (sebuah sma yang nanti juga akan penuh cerita) sebenarnya dia bukan orang asing bagi kami. Dia sudah cukup kenal dengan kami.. namun karena kami anak perempuan yg memang gengsi kl hrs mengungkapkan kata naksir apalagi sama orangnya langsung yang jaman sekarang mah cewek juga suka nembak duluan he he. Beda jaman dulu mah penuh dengan pura2 padahal mah daek he he…dengan polosnya tiap minggu pagi abis subuh kami pura2 lari pagi lewatin rumah dia, berharap bisa memandang wajahnya yang menurut kami dulu bersahaja.. tapi kl inget sekarang mah amit amiiiiit he hee… tapi ya itulah pikiran anak ingusan.. melihat rumahnya saja sudah deg2an katanya.. apalgi kl dia keluar waaaaaah kami saling bisik bisik itu tuh kaluar aduh kumahanya bade nyarios naon mun pendak ah kita pura2 ga liat aja yuk … dengan ‘sok’ tidak peduli kami meneruskan acara lari pagi sampe pengkolan linggarjati.. saat balik lagi kami berharap ketemu lagi he he he.. dasar yang lagi pura2 tea.. sok lebay nya..dan .. haaay dia menyapa.. wah sontak aja hati kami semua deg deg an padahal yg naksir Cuma wiwik lho kami Cuma jadi ikutan deg2an. Wah rasanya disapa gitu aja rasanya berbunga2.. eeeh ga Cuma nyapa, dia juga ngajak ngobrol.. kami sebagai penonton yang mengawal yang sedang kasmaran jadi ikut sibuk berbasa basi menutupi rasa gundahnya hati wiwik..he he…bla bla bla.. kami pun ngobrol sejenak.. terakhir yang saya ingat dia bilang kamu tuh “caem “ sama wiwik padahal saat itu kami ga tau artinya apa..dengan msh menyisakan tanya kami pun pulang …
Sepanjang jalan kami bahas eeh artina caem teh naon sih.. teuing naon teu terang. Tapi rasa penasaran kami membuat kami terus membahasnya hingga sampailah kita di tempat paporit nyaeta tangkal jambu tea… sambil nerekel metikan jambu trus kami mengunyahnya dengan nikmat… emang jambunya enak sih… tak lepas dari bahasan caem tea.. tanpa pikiran apa2 dengan kepolosannya neng teti nih menunjukan kesungguhannya ingin Bantu mencari tahu.. Tapi dasar si culun tea yang belum punya kaisin tapi jiwa penolongnya dan solidaritasnya yang tinggi besoknya saat ketemu si kaka biasa kami menyebut si cowok itu. Si teti nan polos ini nyeletuk kaka kaka ari caem teh naon siiih… (kali saat itu si kaka ketawa dalam hati dengan terbahak bahak dan pengen bilang dasar budak leutik oooon he he) tapi si kaka menjawab dengan santainya” emang kunaon..” eta tuda kamari kaka nyarios kitu teh teu ngartos “oooh hoyong terang? Caem teh artinya cantik geuliis” mulut mungil ini pun mengucap oooooh dengan panjangnya.. kalo inget jaman dulu isiiin ku polosna he he..
Akhirnya datanglah saat yg ditunggu2. si kaka ini ngirim surat cintanya buat wiwik si cantik yang mempesona ini. Dengan gaya mak comblang teti pun memberikan surat itu kepada wiwik. Dan kami berempat membacanya…how wow.. wow.. isinya seperti yang ditunggu2..dia juga naksir sm wiwik. Tapi dasar anak ingusan ya.. dah datang yang diharapkan eeeh malah bingung naon nya jawabna.. kumaha yeuh mun pendak.. dah ah kepanjangan lagi kl dibahas.. seiring waktu berjalan walau belum ada jawaban kami dan si kaka pun biasa aja ngobrol ngaler ngidul…namun singkat cerita jadian deh tuh si kaka sm wiwik … tapi yang lucu ya.. kl si kaka itu janjian mau datang.. kebetulan markasnya memang di rumah teti..(mungkin kl di rumah wiwik sendiri takut diomelin he he..) yang walau rumahnya sederhana tapi sangat nyaman buat ngumpul2 eeeh 4 sekawan ini kompak bebersih rumah teti.. ada yang nyapu.. ngelap meja.. siapin minum (dalam pikiran teti waah lumayan deh kerjaan gue berkurang ada yg bantuin he he) pokokna kompak mendukung yg lagi kasmaran hanya tuk menyambut kedatangan si kaka ini.. uuuh siapa yang mau ngapel siapa yang sibuk he he kl sekarang pada mau engga ya disuruh nyapu ngepel..he he
Tapi dasar gaya pacaran jaman dulu ya yang pacaran siapa yang ngobrol siapa… kami tuh ikutan nimbrung ngobrol tanpa memberi kesempatan duduk berdua he he kali dalam hati wiwik iiih ngapain sih ikut2an he he.. tapi lama lama kami pun merasa ga enak hati dan tahu diri juga nih akhirnya kami tinggal juga.. dan mereka menuju tangkal jambu… tapi ga macem2 kok karena ada yang ngintipin pacaran lewat jendela ha ha ha… entah apa yang mereka bicarakan tapi kami ikut ketawa2 atau ngetawain ga tau deh..
Kl saja ada obie mesakh lewat pasti dah dibikinin lagu.. malu aku malu sama semut merah yang ada di pohon jambu di depan rumah teti…. Kumaha nya nynyina mun kitu… sok lah pang ngarangkeun…
Duuh masa mau diceritain semua.. jangan deh nanti ketahuan.. sok bae terusin ceritanya menurut keyakinan masing2… ( mau nyambung?)

Baca Selengkapnya...

Minggu, Oktober 11, 2009

MATAMU BICARA BANYAK

Matamu bicara banyak ketika sekilas kita bertemu
Tentang Rindu
Tentang Cinta
Tentang Sakit Hati

Lalu kenapa jadi gundah gulana
Setelah lama tidak berjumpa

Matamu bicara banyak ketika sekilas kita bertemu
Tentang Rindu
Tentang Cinta
Tentang Sakit Hati

Lalu kenapa tak jua bertemu
Sekedar untuk berbagi cerita

Salahkan waktu karena tidak mau berjalan mundur
Salahkan Takdir karena tidak mau persatukan kita

Sebab Hati selalu jujur berkata
Aku masih Cinta Padamu..

Fuur : Ceu

Baca Selengkapnya...

Jumat, Oktober 09, 2009

4 SEKAWAN

(Teti Fathiyah '89)

Ragu ragu tuk menulisnya…. Bingung…naon nu bade diserat….

Tapi… coba aja deh bikin cocoretan siapa tahu jadi cerita yang bikin orang tertawa.. daripada cemberut … atau malah cemberut setelah baca cerita ini.. yaaah keun wae lah.. pokokna mah mencoba ..dan mencoba.. untuk berbagi cerita… tanpa dialog…

Berawal dari sebuah pertemanan kami 4 anak kecil yang imut-imut, luthu, culuuun, polooos pisan,sesuai dengan sifat dan karakter anak2 jaman baheula yang ga tau kana gaya… seperti anak sekarang yang kecil2 dah pandai bergaya nan cantik bak bidadari… wah tebiiih pisan bentenna.

Candanya..cerianya..polosnya.. seakan tanpa beban tertawa lepas bebas serasa dunia ini milik kami sendiri.. tiap pagi berangkat sekolah pasampeur sampeur, sekolahnya juga Cuma berangkat,belajar dan bubar. Tanpa berfikir pulang sekolah harus les ini les itu (jiga barudak ayeuna dijejelan ku sagala rupa les) pokokna mah bebas aja..

Tiap pulang sekolah berjalan rame-rame walaupun lumayan jauh (dulu mah lom ada yg dijemput motor komo mobil mah) sambil lari-larian…kejar-kejaran… duh bahagianya mengingat keceriaan kami..

Seringkali tiap pulang sekolah tanpa menanggalkan baju seragam yang Cuma satu-satunya kami langsung aja bermain … mainnya juga sorabi2an dibuat dari tanah yang dicetak2 sama campur mie.. ( yang diambil dari pohon merambat warna kuning seperti mie naon namina nya…) main begitu juga dah seneng banget. Da jaman baheula mah boro2 aya mainan bagus komo Barbie mah teu kenal2 acan.. Apalagi mainnya di tempat paporit dibawah pohon jambu pinggireun balong di sebuah rumah sederhana di blok 3 balangko desa caracas kecamatan cilimus kabupaten kuningan huuuh kepanjangan deh…

Pokokna mah setiap hari nongkrong bari teterekelan dina tangkal jambu metikan jambu nu masih parentil buat digerus jadi masak masakan.. sambil ngoceh seuseurian tapi lupa apa ya yang diobrolin.. maklum cerita jaman masa masa kecil hese ingetna oge.. komo kedah ditulis didieu mah dah ah tambah lieur mengingatnya.

Tapi semua keceriaan ini sayang sekali ya tidak dimiliki anak2 sekarang yang nonrongnya di depan computer, main ps, tv deui tv deui… ga ada yang seru…selain tangannya yang asyik berkutat mencetan huruf2 yg ada di keyboard.. bari chattingan katanya mah kitu…

Dulu sih teterekelan dina tangkal jambu… babancetan.. enengan.. bebentengan… waah masih pada inget ga ya…

Setelah puas bermain dengan keadaan yang kotor dan kummel tanpa segan tanpa ragu tanpa kaisin (mun ayeuna mah isin meureun) kami langsung menaggalkan apa yang menempel di badan kami…buka baju (iiiih bukan porno lho….maklum budak leutik kelas 4) kami berempat langsung nyebur ka balong… padahal eta bukan kolam renang hanya kolam ikan yang penuh leutak tapi cukup luas cukup untuk kami ngojay…waah suegerrr. Ih mun inget ayeuna mah jorok he he… tapi jaman dulu mah ngojay di kolam ikan ge serasa ngojay di cibulan…

Kebiasaan itu berlangsung dari hari kehari… bulan ke bulan.. tahun ke tahun… tanpa terasa saat itu kami sudah beranjak ‘rada gede’ nyampe juga kelas 6. Tapi maklum budak kampung jaman baheula kelas 6 ge tetep aja santai ga tersiksa mikirin belajar ataupun les di bimbel paporit (tacan aya) pikirannya maiiin terus.

Sampai pada suatu hari sepulang sekolah kami janjian untuk berkumpul di rmh salah seorang teman kami sambil membawa bekal seadanya.. dengan gaya 4 detektif cilik yang mau mencari harta karun.. kami naik ke sebuah munjul yang kata orang2 mah angker… tanpa rasa takut dan sok jagoan kami berjalan melalui jalan setapak sambil tak ketinggalan ocehan ala caracasan maneh jeung aing masih suka keluar dari mulut2 mungil kami. Akhirnya jalan setapak itu mengantar kami ke puncak munjul.. waaah hebat pikiran kami waktu itu berhasil naik kesana asa pang jagoanna .

Dengan santainya kami gelar tiker dan membuka perbekalan yg kami bawa ( teu pira Cuma nasi,sambel,sama lauk asin) tapi rasana nikmat bae da boro2 aya fried chicken mah can usum… sambil menikmati bekal kami pun dg asyiknya memandang pemandangan di bawah munjul yang indah… rumah2 berjejeran terlihat dari atas.. jalan raya caracaspun terlihat jelas.

Sedang asyik memandang pemandangan,pandangan kami tertuju pada sebuah rumah… rumah teman kami yg sudah pindah ke daerah lain… tiba2 keluar seorang ibu.. dan entah kenapa si ibu itu pun melihat kami dari bawah sana… beliau melambaikan tangannya mengisyaratkan memanggil kami…. Tanpa pikir panjang kaki mungil kami berlarian menuruni jalan setapak kea rah rumahnya. Dengan tanpa mempedulikan tikar dan tempat makan yg kami bawa tadi, ditinggalkannya tanpa dibereskan.

Akhirnya sampai juga di rumah ibu teman kami yang bernama Euis (sekarang gat au ada dimana). Tanpa basa basi si ibu yang baik ini mengajak kami ke palimanan ke rumah barunya. Tanpa mempedulikan Napas yang tersengal sengal karena balapan turun… kamipun setuju aja.. (maklum dlm pikiran kami horeeee seneng pisan diajak jalan2 naik mobil bagus, maklum jaman dulu naik mobil teh asa mewah pisan)

Dasar anak2 ya tanpa izin kepada orang tua kami pun ikut ke palimanan . ngeeeeng mobil pun melaju… pendek kata sampailah kami di palimanan bertemu dengan Euis . Euiiiiiiis teriak kami sambil bersalaman dan lansung asyik bermain … waaah dengan polosnya kami melihat rumah yang memang bagus pada saat itu mewah deh.. ditemani kue kue diatas meja.. minumnya sirup. Duuuh sirup teh jaman baheula mah asa pang enakna… dah saking asyiknya lupa alias ga mikir kana waktu yang semakin sore…..

Sementara itu….. ada apa di caracas?????

Heboooooh….ada sebuah kehebohan di caracas…. Tanpa kami tahu apa yang terjadi disana… Orang2 saling bertanya… saling bingung..cemas… beredar kabar ada 4 orang anak perempuan hilang di munjul semua panic.. ada apa di munjul… aduuuh eta aya culik… nyulik budak 4… ada pula yang berkata waah jangan jangan digondol kalong wewe… maklum di munjul kan angker jadi pikirannya macem2.. semua orang mencari kesana kemari.. maklum mau magrib belum ketemu juga.. alhasil tak juga ketemu hanya tikar dan tempat makan yang tersisa.. mereka semakin panic…

Hampir aja putus asa mau nyari orang pinter bikin bubur merah bubur putih, ayam hideung ayam putih… heuuuh judulna mah heboh bae para ortu kami…. Nyari budak 4 ga ketemu juga….

Kembali lagi ke palimanan tanpa memikirkan orang sekampung yg sedang panic paciweuh milarian budak nu leungit …eeeh si bocah kecil nih masih asyik aja main… ga mikirin waktu…komo inget pulang mah teu mikir pisan.

Soalnya dah sibuk dengan boneka2 yang pada waktu itu kami ga punya.. paling2 kami bikin wawayangan dapi pohon sampeu dipilin2 jadilah wayang..

Sambil rambut kami pun suka dikeriting pakai tangkai daun sampeu tea.. padahal mah satu diantara kami ada yang memang udah keriting asli . bayangin aja jadinya kayak apa.. tambah kriboo he he… ( nu nuju maca tong ambek nya he he…..)

Akhirnya tiba juga saat pulang.. ke ameng deui nya… kata uis sebagai kata perpisahan dadaaaaah.

Kamipun melaju kembali ke desa caracas kampung halaman tercinta…

Turun di pengkolan caracas pulang ke rumah masing2 dalam keadaan gelap disambut dengan berbagai pertanyaan eeeh tos timana…. Aya naon di munjul.. teu kunanaon kan sambil meriksa seluruh badan bilih aya nanaon… bilih teh diculik.. atanapi dibantun ku wewe gombel… duuh syukur alhamdulillah ari teu kunanaon mah…

Namun dengan polosnya dan tanpa dosa kami menjawab tos ameng ti bumi euis diajak ku mamina euis ka palimanan.. iiih resep teh mih ….rompokna sae.. kuehna raos.. emuhna sirop .. seueur boneka … naek mobil sae…

Kabayang deh muka2 polos anak jaman dulu…

Kali waktu itu orang tua gemeeees pisan saking keselna nyari kaditu kadieu..tp ditahan… eeeh anaknya lagi main2 enak enakan ya.. tanpa mikir perasaan ortu… maafin kami ya miiih …

Akhirnya dengan bangganya kami perkenalkan 4 sekawan ini dengan nama TEKI Singkatan dari nama2 kami TETI – EEN – WIWIK – WIWI yang sampai saat ini personelnya masih lengkap walaupun jarang ketemu… namun kami tetep inget akan cerita ini…

He he he inget kejadian itu ayeuna mah seuseurian baik si mimih atupun kami sbgi anak nya… teu dicarekan deui…

Yaah kejadian yang ngeselin pada jaman baheula sekarang mah jadi bahan guyonan. Wiwik…een.wiwi..masih inget kan..ceritana he he…. ( tong diemutan nu tataranjangna mah bilih isin he he)…

Yaaah lumayan deh buat ngadongeng ka anak2 yang kebetulan masih kecil2… yang tidak pernah ngalamin pengalaman kami yang cukup menghebohkan.. yang mungkin kl kejadiannya terjadi sekarang pasti dah lapor polisi…. ( bersambung )











Baca Selengkapnya...

Kamis, Oktober 08, 2009

HARTI oh HARTI


Sebetulnya aku berteman dengan Teti, aku mengenalnya sejak SMP dulu, satu Almamater dengan ku dan kami tergabung dalam Uni orang-orang bandel, sekarang kami dipertemukan lagi satu SMA. Mungkin tuhan masih punya rencana yang tersembunyi untuku, atau barang kali petualangan kami harus diawali lagi dari sini dalam kemasan yang berbeda, dimana sekarang keadan kami sudah meningkat dari banyak hal. Kelas II aku diperkenalkan dengan teman-temannya Harti dan Susi, tiga cewek jagoan ini sudah tidak asing lagi di sekolah kami, dari kelas I hingga kelas III semua paham dengan mereka, terutama Teti yang bertubuh aduhai, rambut lurus panjang melewati bahu, pakaian bergaya modern bak orang Jakarta. Tetapi mataku sudah padat melihatnya sedari SMP, orang lain banyak memuji dirinya itu karena mata mereka tidak terlatih untuk mencari sesuatu yang unik, sesuatu yang bernilai mahal. Intan yang berkilau-kilau seberat 8 kg, mutiara yang berkilat bila disiram cahaya sebanyak 2 karung tidaklah lebih mahal dibandingkan dengan safir biru berbentuk hati milik Nona Ross yang ditenggarai tenggelam didasar samudra bersama jasadnya dalam kapal Titanic, setidak-tidaknya itulah pandangan hidup ku saat itu. Kuulurkan tangan ku sembari aku menyebutkan namaku dan ia menyebutkan namanya, lalu giliran orang yang satu lagi mengulurkan tangannya padaku, aku memandang matanya barang beberapa detik lalu kujabat jemari tangannya (tentu bukan jempol semua) sambil melapalkan namanya ia tersenyum "Harti", katanya Harti namanya...
Tidak ada yang istimewa dengan kata yang menjadi namanya, kalau hanya kata "Harti", telingaku sudah akrab dengan beberapa kata harti. Bahkan tetanggaku yang menjadi gila sebab ditinggal oleh lelaki yang sudah ditunangkan kepadanya malah lelaki tersebut lebih memlih transmigrasi ke Jambi, dan bibiku yang sumbing sejak dari lahir juga bernama Harti. Harti yang ini sungguh agak berbeda, ketika kami berjabat tangan dan dia melemparkan sedikit senyuman kepadaku untuk sedikit beramah tamah dengan orang yang baru diperkenalkannya, barangkali itulah yang dimaksudnya. Tololnya aku yang menanggapi arti yang berbeda, sehingga waktu berjabat tangan malah jantungku sedang berolah raga, seolah-olah paru-paruku sesak tidak dapat menghirup oksigen dari atmosfer Cilimus yang notabene lembah kaki gunung yang sejuk dan udara yang bersih, tetapi aku merasa udara disekeliling ku menjadi karbondioksida semua. Aku segera membenahi diri dan perasaanku yang carut-marut dan tidak lazim. kami pergi ke posko kami, warung mang Rokim di hook pertigaan jalan Panawuan, diwarung itulah tempat kami beristirahat dan mengisi perut dengan dua buah bakwan dan sebatang rokok sudahlah cukup. Mang Rokim dan istrinya yang penyabar hampir tiap hari teraniaya oleh tingkah polah kami, yang jajannya sedikit tapi duduknya belama-lama bagaikan perompak yang bersandar diperkampungan pesisir selat Manaung, mambuat risih penduduk dengan tabiatnya yang buruk.
Sejak perkenalan itu kami semakin akrab saja, tegur sapa, senda gurau bahkan berkelakar kelewat batas sering terjadi, tanpa ada keraguan ataupun kecanggungan.Dalam kesehariannya Harti berbicara dengan kami menggunakan bahasa nomor 2, yaitu bahasa yang sedikit agak kasar dan seronok, baginya kami adalah sama dengan dirinya, dibenaknya antara aku dan Teti berjenis kelamin sama, dimatanya aku adalah sabat perempuan tertua yang harus melindunginya, yang harus mengantarnya dalam kegelapan malam, dia memandang aku adalah mukhrimnya dan dia mengira aku benar-benar telah menjelma menjadi kakak perempuannya. "oh..malangnya nasibku", Dia tidak akan segan-segan menjambak rambutku dan ditariknya kebelakang jika kesal padaku hinga aku tersentak dengan kepala tengadah, dia tak akan malu meraih pundakku dengan tangannya digantungkan dipundakku ditempat orang banyak, dia tak akan segan menempelkan tubuhnya pada tubuhku dalam keheningan dan sepi. Dia akan tertawa sejadi-jadinya jika aku dipermalukan oleh teman yang lainnya, dan dia akan membantu teman yang lain mencibir-cibirkan bibirnya ditujukannya padaku, dia akan bersorak ketika aku mendapatkan kesulitan dengan hukuman dari guru, dia akan bersumpah serapah untuk mengelak padahal aku hanya bertanya sedikit saja. Dia telah benar-benar menganggapku perempuan. "Asstafirullooooohhh aladziiiimm !!".
"Ti...Ti..!!!". Akankah kau sekejam itu jika kamu tahu sesungguhnya yang ada dalam hatiku ??, tidak seperti dirinya yang menganggapku perempuan, malah sebaliknya, aku punya pandangan lain pada Harti dan aku punya perasaan yang berbeda padanya, tidak juga seperti perasaanku pada teman perempuan yang lain. Aku berbeda menanggapi perkara dia dengan teman yang lain, aku berbeda menanggapi permasalahan yang ia peroleh. Jika dia dipermalukan oleh Teti yang selalu menyepelekan dia, hatiku seperti kaki yang tertusuk-tusuk akar ilalang yang aku berjalan diatasnya, kerongkongan ku seperti tersumbat biji buah kedondong. Ketika dia menjambak rambutku dari belakang kuat-kuat, hatiku bahagia seolah-olah aku telah memberikan jalan keluar dari kejengkelannya supaya tertupah-ruah keluar dari dalam isi hatinya lalu dia merasa baik.
Tanpa dia menyadari keadaannya aku sering memperhatikannya, aku sampai hapal benar detail dari sosok dia. Tentang tubuhnya yang tinggi dan montok, walaupun tidak padat. Tentang Bulu-bulu perindu yang menghiasi di lengan dan betisnya, Tentang warna kulitnya yang menurutku sangat unik, putih tidak, hitam tidak sawo matang pun tidak (mungkin sawo busuk kali yah..??).Tentang tanpa ragu dia menempelkan tubuhnya pada tubuhku ?, ini yang membuat dia menjadi seperti orang yang paling kejam terhadapku, ibarat Hitler sang pendekar Nazi yang tanpa perasaan membunuh ratusan orang sekaligus, seperti Idiamin Presiden Uganda yang menyayat lidah lawan politiknya dan dia memakannya, aku melihatnya dari poster film tentang Idiamin di bioskop misbar.
Harti tidak memahami bahwa aku sedang beranjak dewasa. Aku terlalu lemah untuk menahan daya racun getah testosteron, akar segala kejahatan yang secara sporadis dapat menyerang anak-anak Adam yang baru beranjak dewasa. Mulutku bagaikan mulut anjing sehabis berlari, menjulur-julurkan lidah dan meneteskan air liurnya, testosteron itu telah membawaku kepada pikiran yang tidak logis. Seketika aku bisa lupa bacaan Al-Fatihah yang setiap hari aku lafalkan sekurang-kurangnya 10 kali, bahkan aku tidak mampu menghapal surat Al-Ikhlas yang sangat pendek. Aku semakin merasa bersalah kepada KH. Abdullah Gymsantiar pengasuh management Qalbu dan aku tidak berani menatap posternya KH.Abdurrahman Wahid begawan NU. Moralku tercabik-cabik dengan hayalanku yang semburat dan tak waras.
Sulitnya aku bersandiwara pada nuraniku bertahun-tahun, ini membutuhkan cadangan energi yang banyak. Setiap hari tubuhku terasa semakin berat, padahal badanku semakin kurus karena aku semakin sering mandi, mungkin mandi itulah yang membuat badanku semakin kurus, seperti kata mutiaranya Jhon F Kenedy :" cikaracak ninggang batu laun-laun jadi dekok", artinya tetesan air yang benimpa batu lama-kelamaan batu itu akan terkikis juga. Itulah sebabnya badanku semakin hari semakin tipis saja. Ternyata perasaan semakin berat itu berasal dari hatiku yang tidak punya kemampuan untuk berterus terang. Aku takut perasaan ini Dia tahu, aku takut perasaan ini orang lain tahu dan aku lebih takut lagi kalau geng kita tahu perasaanku ini. Tak dapat kubayangkan olok-olok yang akan kuterima tiap hati, aku akan mendapat senyum olok-olok tiap kali aku bangun pagi, aku akan jadi buah bibir di sekolah.
Keangkuhanku telah menelan nuraniku habis tanpa tersia satu tetes darahpun, menghimpit tubuhku dengan pohon enau yang masih berduri, aku bak pesakitan paling berbahaya dirumah bui Guantanamo. Logika yang selalu diasah oleh rumus fisika telah berbuat tidak adil pada hatiku, logika menghendaki aku menguburkannya perasaan itu dalam-dalam agar kelak ratusan tahun kedepan sudah menjadi fosil yang akan digali oleh anak cucu kita, dan menyuruhnya menenggelamkan perasaanku kedalam samudera hindia agar ditumbuhi tritip yang menjadi sarang ikan laut berkembang biak, logika juga meminta perasaanku dilempar keatas langin yang menjadi hamparan kitab alam semesta untuk hanya dijadikan catatan yang kelak dibaca oleh anak-anak kita, logikaku telah berbuat tidak adil pada diriku.
Sekarang saat yang tepat untukku membacakan kitab langit yang telah aku tuliskan dahulu ketika aku beranjak dewasa, lalu aku robek-robek hingga berkeping-keping dan kutelan mentah-mentah hingga aku memuntuhkan segala kekesalan dan kejengkelan pada sang keangkuhan yang dulu aku pernah berbakti padanya. Sekarang usiaku sudah udzur dan tidak lama kemudian seleksi alam akan mengeliminasiku dari muka bumi, keangkuhan telah lama kulepaskan, kesalahanku dulu yang tidak adil pada diriku sendiri telah ku maafkan. Dulu aku tidak berani mengutarakan perasaanku pada Harti adalah sebuah kesalahan, pada saat itu aku beranggapan tidaklah lazim seorang teman mengutarakan perasaan cintanya pada temannya sendiri, aku beranggapan manalah mungkin Singa jantan ritual dengan Macan betina, Darwin sekalipun tidak akan menyarankan hal itu. Walaupun diantara kami tidak akan terjadi kesalahan DNA dalam menguraikan kode genetik, karena kami beda Bapak lain Ibu, hanya Dia saja yang beranggapan bahwa aku kakak perempuannya. Kalau saja dahulu aku sedikit cerdik, mungkin aku akan membicarakannya dengan Babeh Saqila sebagai kepala suku dari bangsa pedalaman Manecis.
Sekarang 21 tahun telah berlalu, aku telah mempunya anak dan istri dan aku bahagia bersama mereka. ingin rasanya dia tahu istriku sekarang, dan aku dapat bayangkan jika dia dipertemukan dengan istriku, dia akan tertawa terpingkal-pingkal dan berteriak histeris, " ha..ha Dadaaaann ?? gue baaaangngeeeeett..??". Istriku mirip sekali dengannya, dari kulitnya, bulu perindunya, dan banyak hal. Aku baru mengerti bahwa aku menyukai spesies ini, dia punya kekerabatan walaupun beda ordo. Aku teramat mencintai istriku melebihi dari yang ia tahu, istriku adalah cinta sejatiku, (bukan karena aku menulis cerita ini dirumah dan istriku lalu-lalang dibelakangku...yeeeyy !!). Harti adalah inspirasi imajinasiku untuh menemukan cinta sejatiku, terima kasih Harti kamu telah pernah hadir dalam imajinasiku, semoga kamu bahagia selamanya.
Tamat.

Baca Selengkapnya...

POSTING TERBARU

KOMENTAR TERBARU

  © Free Blogger Templates Blogger Theme by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP