Selasa, November 17, 2009

KISAH PILU SEORANG IBU...

Saya mengenalnya pertama kali ketika pindah ke rumah ini. Waktu itu saya mengundang ibu-ibu majelis ta'lim untuk berdoa di tempat baru saya. Beliau memimpin doa. Saya melihatnya sebagai seorang wanita yang terpelajar. Wajahnya cantik, berkulit putih dengan pakaian yang serasi. Meski umurnya sudah 60 an terlihat kalau semasa mudanya beliau pandai merawat diri. Setelah beberapa kali ngobrol saya semakin terkesan dengan nya. Pengetahuan nya luas, bahasa inggrisnya juga lumayan, belakangan saya tahu kalau beliau pernah menjadi guru bahasa Inggris di sekolah dasar...karena saya merasa "nyambung" dengan beliau, saya jadi sering berdiskusi tentang segala hal dengannya. Saya juga meminta beliau untuk memberi les privat mengaji di rumah untuk saya dan si teteh...dari situlah, karena 2 kali seminggu beliau ke rumah, kami jadi semakin dekat..beliau juga mulai terbuka tentang kehidupan pribadinya...

Ternyata beliau sudah 30 tahun lebih menjanda !...agak kaget juga...orang secantik dan serapi beliau ternyata betah menjanda begitu lama..kalau dihitung usianya yang sekarang, brarti beliau menjadi janda di usia 30 tahun an...masih muda sekali kan ?...apa penyebabnya ?...
Ternyata tanpa saya minta belaiu bercerita sendiri tentang masa lalunya....

Beliau lahir di kota kecil yang sejuk, ada turunan menak sunda..orang tuanya mendidik nya untuk menjadi guru mengaji. Dengan tekun beliau mempelajari ilmu Al Qur'an...memiliki wajah cantik, bersuara bagus, beliau tidak hanya pintar mengaji, tapi juga jago menyanyi...di usia 20 an beliau bertemu dengan seorang pemuda, mahasiswa ITB. Sementara beliau setelah lulus dari sekolah guru keputrian langusung mengajar...mereka menikah dan suaminya yang berotak cemerlang tidak lama setelah lulus langsung diterima bekerja di instansi pemerintah. Di awal pernikahan mereka dikaruniai 3 orang anak..dan ketika beliau mengandung anak ke 4, suaminya ditugaskan ke papua...mereka sekeluarga akhirnya boyongan ke sana...dan di sana lah "petaka" itu dimulai....
Entah dari mana awalnya..sang suami tiba-tiba menyatakan keinginan nya untuk menikah lagi dengan seorang gadis !...bagai disambar petir dan merasa sangat tersakiti akhirnya beliau memilih untuk berpisah...begitu putra keempat nya lahir...beliau memilih pergi, kembali ke Bandung dengan membawa luka hati...semua anaknya dia tinggalkan bersama suaminya karena beliau merasa suaminya akan lebih bisa membiayai pendidikan putra-putrinya dibandingkan beliau yang seorang wanita tanpa penghasilan...

Di Bandung, untuk menyambung hidupnya beliau kembali mengajar. Karena keahliannya dalam ilmu Al Qur'an beliau memberi les privat mengaji di beberapa keluarga...dengan ketekunan nya beliau sampai bisa membeli rumah kecil yang sampai sekarang beliau tempati...sendirian...
Puluhan tahun berlalu, beliau hanya hidup seorang diri...tanpa putra-putri...ada cerita yang amat memilukan...satu persatu putra-putri dinikahkan oleh ayahnya, tanpa pernah mau memberi tahu beliau sebagai ibu kandungnya !...ternyata selama mereka hidup bersama ibu tiri, mereka "diajarkan" untuk tidak perlu mengenal lagi ibu kandungnya !...bahkan bungsunya yang beliau tinggalkan semasa bayi, tidak tahu bahwa yang disebut ibu nya yang sekarang adalah ibu tiri...
Beliau bercerita sambil menangis...betapa hancur dan sedih hatinya ketika diberi tahu oleh kerabat mantan suaminya setiap kali ada anaknya yang akan menikah...dan beliau tidak pernah dianggap "ada"...dengan tidak pernah mengundangnya...apalagi disungkem oleh mempelai...beliau hanya bisa memandang dari kejauhan..meneteskan air mata ketika mereka melakukan ijab kabul...sampai ketika si bungsu hendak menikah, beliau "dipaksa" datang oleh kerabat mantan suaminya dan diperkenalkan kepada bungsunya bahwa beliau lah ibu kandungnya !....saat itu...bungsu nya hanya memandang beliau sekejap dengan tatapan yang tidak percaya...bertambah hancurlah perasaan beliau...

Ketika ayah dari anak-anak nya meninggal, ada kerabat mantan suaminya yang berinisiatif mendekatkan kembali beliau dengan anak-anaknya...karena sewaktu mantan suaminya masih ada, putra-putrinya tidak diberi akses untuk berhubungan dengan beliau sebagai ibu kandungnya...apa yang terjadi ketika pertemuan itu berlangsung ?...ternyata putra-putri nya sudah tidak mempunyai rasa memiliki pada beliau...mungkin karena puluhan tahun mereka tidak bisa kontak secara langsung, tidak pernah bersentuhan, tidak pernah mengungkapkan kasih sayang...yang ada malah cercaan dan pertanyaan yang menyakitkan hati...mereka semua malah menyalahkan beliau sebagai ibu yang lari dari tanggung jawab...tidak mau merawat dan mendidik serta membesarkan mereka...!!!!...Astagfiraullah...dengan berurai air mata, dengan kalimat penyesalan mendalam, beliau menjelaskan semua yang terjadi puluhan tahun silam..ketika beliau terpaksa pergi, ketika dengan berat hati meninggalkan putra-putrinya agar mereka bisa bersekolah yang tinggi karena ayahnya pasti mampu membiayai...ketika dengan hati hancur berpuluh tahun menanti dipanggil "ibu" oleh mereka....ketika trauma pernikahan menghantuinya selama puluhan tahun hingga beliau tidak pernah punya keinginan untuk menikah kembali...

Semua peristiwa pasti ada hikmahnya...meski hubungan batin diantara mereka tidak sedekat sebagaimana layaknya ibu kandung dan anak kandung...sekarang anak-anaknya sudah mau mengakui beliau sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan...yang tidak bisa lagi diabaikan keberadaan nya...
Tapi yang masih memilukan hati..di usia nya yang semakin lanjut, dengan berbagai penyakit yang bersarang di tubuhnya...beliau tetap tinggal sendiri...tanpa teman berbagi...sering saya merasa khawatir akan keadaan nya...dalam kondisi sakit..tanpa ada orang yang menemani di rumah..saya selalu khawatir akan terjadi apa-apa pada beliau...tapi beliau selalu mengatakan bahwa beliau terbiasa hidup sendiri, teman dan pelindungnya hanya Allah swt,...

Saya selalu berdoa, mudah-mudahan ada salah seorang anaknya yang tergerak untuk menemani beliau menghabiskan masa tua...menemaninya menjalani hari-hari...
Betapa tidak enaknya hidup dalam kesendirian...betapa menyedihkan hidup tanpa kasih sayang keluarga...anak-anak yang seharusnya merawat beliau semua sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa berpikir satu saat mereka juga akan menjadi tua dan ingin dirawat, didampingi oleh keluarga dan putra-putrinya...ahh..inilah kehidupan..
Semoga Allah swt selalu melindungi beliau...menjaganya dengan kasih sayang dan kelembutan Nya...

nengndrie




Baca Selengkapnya...

Jumat, Oktober 30, 2009

Sri

Cerpen ini adalah secuil bagian dari novel dansa berjudul "Ci" yang belum di buat.

by : dansa

Kalau itu aku hapal betul, suara Wak Pernata. orang tua yang jalannya gontai digerogoti rasa putus asa dan hilang semangat hidupnya semenjak istrinya meninggal setahun yang lalu. orang tua itu muazin surau bale kambang kampung kami yang sedang melantunkan azan ashar, sebenarnya suaranya parau dan putus-putus. Tetapi dengan gunung iman yang kokoh berkacak pinggang didalam hatinya mampu menyihir kami sehingga suaranya terasa mengalun bak rambut bidadari yang dipermainkan angin gunung, mendayu, meresap hingga ke sumsum tulang belakang. Tak mampu ku menolak ajakan Wak Pernata yang berkelebat dalam benakku, seolah-olah beliau berdiri di atap surau dan melambai-lambaikan tangannya mengajak kami solat berjamaah.Kututup rollingdor toko ku, kusambar kain sarung bergegas hendak ke surau.

Jalan kecil yang dibungkus permadani batu kali kutapaki, kuntul-kuntul penghamba Alloh bermunculan dari tiap sudut rumah yang berjauhan jaraknya, menghampiri sawah surau asal suara seruan adzan tadi, senyum sumringah terlempar dari setiap bibir anak surau dalam melepas hari ini dari kancah pencarian rizki, kecipak-kecipuk suara air kolam, muka-muka basah mata-mata yang teduh terpacar dari mereka, kamipun masuk ke dalam surau. Sekarang saatnya kami tepekur bersujud dan bersimpuh pada bumi dihadapan Alloh, mengadukan segala keluh-kesah, memohon segala harapan, dan ampunanNya.

Selepas solat ashar kebiasaanku menuang segelas kopi dan mengepul-ngepulkan asap rokok, sambil duduk di kursi dapur yang lusuh melendut, itu tempat yang paling asik melepas sore sambil bercakap-cakap dengan Ibuku, banyak hal yang sering aku obrolkan dengannya , dari hal yang penting, serius, bahkan hanya untuk membicarakan kelakuan tetanggaku yang kurang waras menurut ku, untuk hal itu ibu tidak suka, Ibu tidak tega membicarakan kekurangannya, hati ibu serasa disayat-sayat dan dadanya sesak jika ingat dia, mungkin itu suatu bentuk terimakasih ibu kepada Tuhan, karena ibu diberikan anak yang lengkap jasmani dan rohaninya, ibu selalu melekatkan matanya di mukaku jika sampai ke pembicaraan tentang tetanggaku itu, memberi isyarat untuk berhenti menggibahnya. Ibuku orang yang sabar, Ibu tidakbisa mengatakan tidak walau ia tak setuju, apalagi untuk kebijakan Bapak, bagai kerbau dicocok hidung ibu mentaati saja. yang paling ditakuti dalam hidupnya jika berdosa dari suami, baginya membantah suami berarti bencana, bumi akan menghimpitnya lahar menelan langit runtuh hingga tak dapat bernafas.
Saat itu kami mendengar suara pintu kamar Bapak dibuka, sudah dua hari Bapak tidak keluar dari kamar, kami tidak tahu alasan apa Bapak mengurung diri, hanya ketika waktu solat saja Bapak keluar mengambil air wudlu di bak mandi lalu masuk lagi. Tak seorang pun dirumah kami yang Berani bertanya alasannya, bahkan Ibu sekalipun selalu cukup mengatakan "duka" (tidak tahu) jika kami bertanya alasannya Bapak demikian.
Aku mendengar suara Bapak memanggilku, segera aku memperolehnya dikursi tempat Bapak suka duduk berlama-lama, aku duduk tertunduk di hadapannya, lama Bapak tidak berkata-kata apapun, pikiranku menduga-duga apa yang mau dikatakannya. Barangkali bapa sudah pikirkan untuk membagikan tanahnya pada kami sebelum beliau wafat, atau barangkali beliau... ah..
Ibu melantakkan hayalanku, ibu duduk sepertiku tanpa berkata-kata.
"Satya ! sudah berulang kali Bapak katakan, sudahi hubunganmu dengan Sri." Bapak mulai membuka pembicaraan. Dua hari Bapak mengurung diri dikamarnya hanya untuk mengatakan itu ? bukankah Bapak sering mengatakannya tanpa harus bertapa dahulu ? aku masih belum mengerti hendak kemana hati dan pikiran Bapak melangkah,

Sudah tiga bulan aku mengenal Sri, telah banyak kesempatan yang kami curi untuk kami saling bertemu, di rumahnya, di warung bi Sewi, sukaderi, tarikolot, balong tukang, Dangdeur. Kami saling memadu kasih merekatkan hati-hati kami, aku sudah mabuk kepayang.
Sri wanita tercantik yang pernah aku temui di muka bumi ini, setidaknya itu dalam penglihatanku. Di hitam bola matanya melati, mawar dan angrek. Di hitam bola matanya pula ia menyiratkan keluguan, ketulusan keikhlasan, kesederhanaan harapannya. senyum girang tiada kepalang acapkali dia bertemu dengan ku melukiskan hatinya yang hampa tanpa diriku, bagai seorang yang sedang hanyut di lautan lapas, lalu didapatinya perahu nelayan. Begitu tulusnya Sri mencintai aku membuat hatiku semakin tertambat padanya.

"Apa yang kau merasa pantas darinya ?". Bapak mulai memecah lagi keheningan.
"usianya saja baru 13 tahun, apa maneh (kamu) tidak berpikir ?". Kulihat dahi Bapak berkerut kulitnya melipat-lipat, matanya nanar berkaca-kaca, pandangannya dipalingkan keluar melewati jendela, menyembunyikan air mukanya dari kami. matanya menerawang ke kejauhan.
"Kenapa kamu teh diam sajah","mau atau tidak?". Bapak bertanya padaku, tapi aku mematung dan masih memikirkan Sri yang bagai hidup sebatang kara di dunia ini, yang dia tahu hanyalah aku.
"Bapak teh sudah pikirkan Satya, kalau maneh tidak mau menjaga beungeut kolot(muka orang tua), silahkan !, itumah hak maneh. mau berkeras hati dengan Sri juga silahkan !, tapi pergilah yang jauh supaya Bapak tidak lagi mendengar tentang kalian, jangan datang lagi kesini selama Bapak masih hidup, Bapak mendoakan semoga kalian bahagia.".Bapak berdiri dan pergi kekamarnya meninggalkan kami.

Bagai disambar petir disiang bolong tubuhku gemetar, panas, tak dapat bergerak tetapi tubuhku seperti melayang, ibarat benda kehilangan gaya gravitasi perasaankupun tak menentu, entah rasa seperti apa yang kurasakan. Petir sebagai mahluk luar ankasa yang belum diketahui kegunaannya itu telah menghantam tubuhku hingga tercabik-cabik berkeping-keping, darah semburat ke tak menentu arah,. ditingalkannya hatiku tergolek disana.
kulihat Ibu terdiam membatu, mimik muka datar tapi air matanya mengalir deras, sungguh aku tak tega melihat perempuan tua nan sabar ini membuang airmatanya hanya untukku. Aku akan baik-baik saja Bu ! itu kata hati yang tak mampu keluar dari mulutku, ini bukan hari yang tepat untuk membalas barang setetes air dari samudra kebaikanmu padaku.
Pilihan dilematis telah Bapak tawarkan padaku, bagai buah simalakama, dimakan Bapak mati, tidak dimakan Ibu yang mati. oh, sulit sekali bagiku, kenapa tidak buah yang lain saja ?

Dalam linangan air mata yang tak tertahankan tumpah ruah membasahi hampir separuh bajuku, aku berpamitan pada Ibu, aku meyakinkan pada Ibu bahwa aku akan memilih jalan hidup yang aku kehendaki, atas ultimatum dari Bapak akan aku terima dengan dengan lapang dada, ini resiko yang harus ku ambil. Jika aku tak dapat mengambil keduanya maka aku memilih yang paling lemah diantaranya.
Ibu tersenyum telungkup sabit, air matanya tak henti meleleh dari haribaan kasih tak berujung, tangannya mengelus-elus, menepuk-nepuk, menggenggam erat pundakku. Mengangguk-anggukan kepala tanpa sepatah katapun, mata lekat menatapku seolah membisikan syair kalimah sakti "Kamu sudah pantas menjadi kepala keluarga Nak. jemputlah Sri mu, doaku tertancap diubun-ubun dan diulu hatimu, selamat jalan anakku."

Aku pergi tanpa berpamitan pada Bapak, diantar tatapan Ibu hingga hilang dari pandangannya.
Aku masih belum dapat merasakan tubuhku ini sebenarnya masih ada, seolah-olah bagian dari hidupku hanya tinggal segumpal hati, yang melayang-layang menyusuri bentangan jalan tak tentu arah, hanya pasrah pada takdir angain membawanya.
Malam itu aku singgap di gubuk sawah entah milik siapa, tak ada yang mampu kupikirkan selain mendekap hati yang kian malam kian terasa sakit. setiap helaan nafas terasa seperti sayatan sembilu mengiris hati ini, hingga subuh datang aku baru tertidur digubuk itu.

Kakiku terasa hangat, kubuka mata perlahan. Silau sinar matahari membuat mataku tak jelas melihat, dimukaku sosok manusia perlahan tampak, kilaban rambut melambai-lambai tertiup semilir angin pagi, senyum bibirnya menyuguhkan sarapan pagi bagiku yang belum makan sedari kemarin. Sri yang dihadapanku itu, sosok bidadariku yang selalu kubawa dalam kalbuku, kusimpan disekat bilik hati sebelah kiri. Suara penawar segala lara membangkitkanku dari terbanring.
"Aa kenapa tidur di saung ? (gubuk sawah)" .
aku belum menjawab bidadari kecil ku, ku amati petak demi petak sawah yang mengelilingi gubuk ini, kulihat batas-batas sawah, kulihat jalan setapak yang membelah hamparan sawah menuju ke kampung yang aku tak asing lagi. oh, aku terdampar di gubuk yang tak jauh dari rumah Sri.
Sri masih memegangi telapak kakiku yang dingin sisa lahapan angin malam yang kubiarkan tanpa daya. di bening matanya menyiratkan pertanyaan yang belum mau ku jawab. Sri tidak memaksa pertanyaannya, diraupnya jemariku dalam genggaman jemarinya yang hangat nan erat, lalu ditelekamkannya di pipinya lama hingga kami merasa baik. Begitulah Sri memperlakukan aku bak dewa kehidupan bagi dirinya. Sri membujukku untuk berbincang di rumahnya, dan aku setuju.

Kopi hangat telah menyadarkanku dari drama tadi malam, sebatang rokok sedikit menawar rasa sakit di ulu hati yang kini datang lagi, Sri memecah kesibukanku yang sedang menguasai hati ini.
"Aa kenapa tidur di saung ?".
Ini pertanyaan yang sulit aku jawab, jika aku mengatakan apadanya, tentu sangat menyinggung perasaannya, membuat ia merasa bersalah padaku, merasa ia tidak berharga sama sekali, dan banyak kemungkinan lain yang akan menyiksa hatinya. Aku tidak mau Sri terluka sedikitpun.
"Aku sudah berpamitan akan pergi ke Bandung tadi malam, tapi aku belum mau berangkat ke sana. Aku akan menemanimu beberapa hari di sini.".
Sri tidak memaksakan beberapa pertanyaan yang kritis, sepanjang dua hari aku bersamanya.
Sri bahagia, akupun terobati. Aku semakin yakin bahwa Sri pilihan terbaikku.
"Kenapa Aa harus mencari kerja ke Bandung ?"
"Aku punya impian untukmu Ci, aku akan membuat hidupmu lebih dari yang lain, kau tigabelas aku dua sembilan, tidak ada yang salah dari kita." (Ci adalah panggilanku pada Sri) .Sri tersenyum lebar, walaupun aku tahu dia tidak mengerti apa yang ku ucapkan, baginya ucapanku hanyalah gombal yang menyenangkan.
Sri melepas kepergianku dengan penuh harap kembali, ia mengatarku hingga terminal bus.

Bersambung..........

Baca Selengkapnya...

Senin, Oktober 19, 2009

TANPA JUDUL

seraut wajah hadir
dengan bingkai rindu di matanya
kusambut hadirnya
dalam serakan rasa yang sama

rindu kita
terpuaskan dalam mimpi
malam tadi

wajah kita
ada di sana
dalam asa yang serupa...

Baca Selengkapnya...

Sabtu, Oktober 17, 2009

PEMBENTUKAN SEBUAH CERPEN



dansa :

Dulu pembentukan sebuah cerpen lazimnya cenderung bertumpu pada alur cerita dan karekteristik yang kuat serta utuh, seseorang menulis cerita karena memang benar-benar memiliki cerita yang ingin di bagikan kepada orang lain. Tetapi sekarang pembentukan sebuah cerpen tidak melulu menyuguhkan cerita, melainkan dapat juga berupa ekpresi situasi tertentu ataupun deskripsi yang berisi pemaparan peristiwa-peristiwa dalam bentuk monolog dan lain-lain. Karena tidak bertumpunya melulu hanya pada cerita, maka cerpen dapat meluas kepada hal ikhwal lain yang mengitari peristiwa dibalik cerita. Cerpen dapat bermula dari teks lain, pencampuran dan peleburan berbagai teks dengan acuan-acuan yang menyebar serta dapat dikaitkan dengan teks-teks lain yang berkenaan ataupun tidak berkenaan dengan cerpen.

Gejala pengembangan pembentukan cerpen di Indonesia itu akan lebih jelas terlihat dalam pertunjukan teater atau seni rupa dalam era duapuluh tahun terakhir. Sepertinya beberapa pertunjukan teater dan seni tari tidak lagi bertumpu pada manusia sebagai suatu "sosok karakter" yang utuh dan menjadi pusat cerita, melainkan pada rangkaian peristiwa, komposisi ruang dan permainan visual. Disitu tubuh dan gerak tidak lagi menjadi pusat pertunjukan melainkan hanya bagian dari susunan ruang dan bangun visual yang di bentuk di atas panggung. Dalam susunan ruang dan bangun tersebut terdapat berbagi peristiwa acak, terpotong-potong, seperti fragmen-fragmen yang seolah-olah tidak lagi memiliki struktur yang utuh. dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain meloncat-loncat tidak beraturan.Bahkan terkadang dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lainnya tidak terdapat kaitanya sama sekali. Bahkan kita seperti sedang berhadapan dengan percampur adukan segala absurd, kontradiktif, paradoksal, hamburan simulacrum, tumpukan budaya massa, berbagai kebrutalan dunia impersonal dampak politik, kapitalisme, fundamentalisme agama, anarki dan sekaligus omong kosong. Pementasan teater itu seolah-olah hendak menunjukan bahwa saat sekarang ini kian sulit menyusun manusia dalam sosoknya yang utuh.Modernisasi yang telah menemukan manusia sebagai subjek yang utuh dan otonom teryata justru menghancurkan si subjek itu sendiri.Kini manusia hanya dapat disusun dari serpihan-serpihan sejarah, sebagai fragmen-fragmen. Dan manusia yang fragmentatif itu sekarang hidup dalam dunia yang terpacah-pecah pula. Maka tidak mengherankan jika seniman teater dan tari justru ingin menampilkan potongan-potongan ruang dan imanji-imaji visual karena memang demikianlah kondisi manusia dan dunia yang mereka saksikan saat ini.

Dari deskripsi perihal gejala yang berlangsung dalam bidang seni pertunjukan dan seni rupa tersebut, saya ingin mengatakan bahwa dalam proses menikmati karya seni, dalam hal ini proses membangun atau membaca sebuah cerpen terkadang kita tidak perlu mengharapkan "cerita" atau berbagai peristiwa di sekitar cerita beserta karakteristik tokohnya yang gamblang, bulat dan utuh, melainkan dapat dengan cara lain yakni menikmati kalimat-kalimatnya, imajeri-imajeri yang dibuka oleh teks, atau menyentuh bentuk-bentuk deskripsinya. Beberapa cerpen menuntut saya untuk menikmati teks sebagaimana saya berhadapan dengan beberapa gejala yang berlangsung dalam seni pertunjukan dan seni rupa, dimana "proses" perjumpaan dengan elemen-elemen yang membentuk karya tersebut terkadang lebih penting dan lebih mengasyikkan ketimbang mencari suatu "Hasil".

Menikmati pencampuradukan yang memesona dari berbagai kemungkinan representasi dan penggambaran sebuah situasi ruang yang sangat rinci dengan bentuk penuturan yang konyol dan humoris seperti dalam cerpen "ANAKKU AKU" karya dansa , dan kalimat-kalimat panjang yang bersayap-sayap serta penyisipan metafora disana-sini juga dalam cerpen karya Dansa yang berjudul "HARTI OH HARTI", kadang lebih ngasyikan membuatnya ketimbang mencari alur dan karakteristik tokoh-tokohnya.Sebagai mana telah dituturkan dalam cerpen tersebut yang tidak menyuguhkan "cerita" yang gamblang, bulat dan utuh, melainkan hanya berbagai lekuk dan liku penuturan yang bermacam-macam.

bersambung...


DAFTAR PUSTAKA :

Wicaksono Adi, 2009. "Beberapa Catatan Perihal Cara Berkisah Dalam Cerpen".
PENA KENCANA, 2009. "20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009".

Baca Selengkapnya...

Kamis, Oktober 15, 2009

November 2009


HATIKU TAK BERPALING

Berjumpa sebentar
Matamu bercerita
Kau bawa cinta itu

Demikian Aku
Kita jauh

Jasad dipasung takdir
Berontak tak bisa
Duniaku disini

Hati bercerita
Bergetar
Hampa
Nyeri

Kau ada dalam ilusi
Dekat bersamaku
Hatiku tidak berpaling
Sampai napas berhenti

Jika alam berganti kelak
Tidakkan tidak aku ucapkan
Takboleh hilang kedua kali
Aku ingin memiliki
Duh Gusti




by : dansa



Baca Selengkapnya...

Bagian III dari Trilogi Puisi

DE JAVU


Ruang dan waktu cuma sekat..
Pembatas maya buat kita lepaskan rindu..
Aku Masih milikmu....


Fuur : Ceu

Selesai...

Baca Selengkapnya...

Selasa, Oktober 13, 2009

PUTRIKU AKU



by dansa,:


Nakita piksi d'Satyavadin, itu nama putriku, ia anak pertama dari satu anak, lahir di rumah sakit islam dibantu oleh tiga dokter spesialis, agak susah memang dia keluar, mungkin karena ia belum siap melihat dan menerima ayahnya. Tentu ia dilahirkan oleh ibunya, dan aku yang memberinya nama itu. Arti nama sangatlah penting bagi orang primitif seperti aku, nama itu akan mempengruhi tabiatnya kelak, setidaknya itulah usahaku untuk memperbaiki keturunan. Walaupun aku tahu bahwa jauh sebelum itu di zaman azoikum ketika di bumi belum ada kehidupan, kitab langit yang terbentang telah mencatat garis kehidupan manusia, dari mulai kapan lahirnya, kapan ajalnya, nasib baik, nasib buruk, dan seterusnya telah dicatat secara rinci dari detik per detiknya.
Tidak terkecuali juga aku, biang keladi dari kelahiran anakku, telah ditentukan didalam kitab langit tentang bagaimanakah peruntungan akak-anakku kelak.
Mbah Jambrong, seorang tua bangka ahli nujum yang bongkok dan nadir pernah menerka-nerka nasib anak-anakku kelak, ia merasa dirinya mengetahui nasib seseorang dari penglihatan indra keenamnya, malah ia pernah berujar padaku empat untaian kalimat dengan empat kali tarikan napasnya yang berat. "Anakmu yang pertama akan menjadi kesatria adiluhung panutan bangsa di bumi pertiwi", mungkin jadi Presiden yang dimaksud Mbah Jambrong. namun sungguh sayang, calon persidenku tidak kusengaja hancur bertepatan dengan peringatan dari malaikat langit lewat mimpiku,ini hari pertama aku diwajibkan mendirikan sholat.
Bisikan yang kedua jelas terngiang ditelingaku,"Anakmu yang kedua akan menjadi kesatria hulubalang kerajaan". Panglima TNI maksudnya barangkali. ucapannya tidak logis, karena bentuk negara ini Republik, bukan kerajaan. Sibongkok tua bangka yang tidak hapal presiden kedua republik ini sedang meracau yang katanya presiden kedua republik ini adalah "Sumanto". Sungguh keterlaluan Yahudi yang satu ini. Keberadaan calon Panglima ini sangat menyiksaku sehingga aku harus berjalan terhuyung-huyung karena beliau kian hari kian bertambah kedigdayaannya, tentu saja dengan senang hati aku rela melepas kepergiannya saat aku mandi siang.
Bisikan yang ketiga dia bilang "Anakku yang ketiga akan menjadi Mentri Riset dan Teknologi". Kali ini dia benar menggambarkan urusan tata negara, entah mengutip dari siaran stasiun radio mana ?, aku tidak tahu. Dan bagian yang inipun lenyap entah kemana, aku tak dapat mengingatnya. Bisikan yang terakhir ini yang menghentakan jantungku, "Anakmu yang ke empat akan merepotkanmu", ujarnya.
Nostradamush kulit gelap ini sedang tidak berpihak padaku, tidakkah dia tahu bahwa senjata pamungkasku tinggal satu lagi, anak panah itu yang melindungi aku untuk menjadi pria yang sempurna.
Semar mesem, semar kuncung, semar kudis, semar rorombeheun. Kulemparkan anak panah itu hingga kelangit ketujuh tempan kitab Bagawatgita berada, yang kelak akan dikembalikan dan berubah wujudnya menjadi seorang gadis yang cantik jelita."Nakita Piksi d'Satyavadin" itulah dia yang tadinya anak panah.

ANAKKU MEWARISI SIFATKU
Dari zaman Joyoboyo telah beredar peribahasa yang berbunyi "AIR CUCURAN ATAP JATUHNYA KEPELIMBAHAN JUA", peribahasa itu mengandung arti bahwa sifat-sifat dari orang tua akan diturunkan pada anak-anaknya. peribahasa itu belum terbantahkan dari zaman dahulu kala hingga sekarang. Jadi bagi para orang tua yang bertabiat jelek, maka bersiaplah jika anaknya kelak akan bertabiat yang sama . Namun jangan dulu takut teman.! itukan peribahasa dulu,dimana orang jaman dulu lingkaran tulang tengkorak otaknya tidak sebesar orang yang hidup dizaman modern. zaman dulu orang hidup memanfaatkan alam, sedangkan jaman sekarang orang hidup mensiasati alam.
Jika peribahas dulu "AIR CUCURAN ATAP JATUNYA KE PELIMBAHAN", maka dijaman sekarang "AIR CUCURAN ATAP JATUH KE TALANG DAN DISALURKAN KEMANAPUN KITA INGINKAN",bisa ke kolam, ke solokan, kepenampungan, atau kemana saja.
Artinya sipat-sipat jelek orang tua tidak harus diturunkan pada anaknya. Bisa saja diturunkan ke tetangga, ke kambimg, atau kemana saja.
Teori ku terbuktilah sudah, anakku tidak seperti aku, tetapi ia melebihi daripada aku. Subhannalloh...sungguh kebesaran Tuhan sedang dipertontonkan kasad dihadapanku.Salah satunya terukir dalam kesehari-harian aku.
Suatu ketika aku menyapa anakku yang sedang duduk.
"hai, Neng sedang apa ?"
"Sedang olah raga Pak" jawabnya,aku kembali menegaskan pandanganku, tetapi benar dia sedang duduk, karena heran aku bertanya kembali.
"Loh, sedang duduk kok jawabnya sedang olah raga ?"
"Udah tahu kok nanya" jawab anakku tanpa mimik muka yang berubah. aku tersenyum lebar-lebar, dalam hatiku bangga, anakku calon pengacara yang handal pikirku.
Lalu aku meminta bantuannya untuk membeli rokok diwarung tetangga dengan imbalan uang.
"Neng, tolong belikan bapak rokok ke warung, nanti diberi upah 1.000 rupiah". pintaku.
"Bapak sajalah yang beli rokoknya, nanti dikasih upah sama Neng 2.000 rupiah". jawabnya sembil tetap duduk.Aku tersenyum lebih lebar lagi, pikirku ia kelak akan jadi pengusaha yang handal, profitable dan survival.

Anaku ini tidak pernah setuju dengan kebijakanku untuk memberinya adik kecil, alasannya sederhana saja, bahwa dia takut gagal jadi anak tunggal.
Einstein kecilku ini memang sungguh luar biasa, ia sudah pandai membuat mobil-mobilan dari handphone ku yang baru kubeli dengan kredit, dia sudah bisa membuat pengungkit batu dari raketku merk Hart yang termahal, dia sudah bisa merubah baju menjadi api, ubi menjadi angin.Dia lebih dari mewarisi sipatku.

ARTI NAMA ANAKKU
Lain aku lain pula ibunya, Ia menganggap tabiat anak kami itu sudah kelewatan, kreatifitas dan jiwa inovatif yang kebablasan dari anak kami itu dipandangnya suatu pemborosan. Istriku mengeluh tapi takbisa berbuat apa-apa, ia sudah kehabisan akal untuk membendung kreatifitas Einstein kecilku ini, ia buntu akal untuk menahan pernyataan pedas dari The next Mandela ku ini. Bahkan suatu hari Istriku pernah mengusulkan gagasan yang tidak masuk akal menurutku, "Merubah namanya,! yah..merubah namanya !!". Ibu ini mengenggap nama yang disandang anakku terlalu berat sehingga anaku tidak kuat membawanya, dan akhirnya bertingkah polah yang tidak masuk akal para tetangganya.
Istriku berpendapat bahwa "Nakita Piksi d'Satyavadin" itu nama macam apa ? sama sekali tidak mencerminkan nama seorang Islam yang turun temurun warisan nenekmoyang kami, lagi pula tidaklah pantas dikampung ini ada nama perempuan yang tidak berakhiran "..ah" seperti, Saliah, Mutiah, mardiah, Maemunah, dan lain-lain. Maisaroh sekalipun tetap saja diakhiri dengan konsonan "h".
Kedua kalinya istriku mempertanyakan arti dari nama "Nakita Piksi d'Satyavadin" padaku setelah sekian tahun lamanya. Tentu saja aku sudah lupa alasan itu, tetapi aku berusaha dengan keras mempertahankan dan menerangkan arti dari nama itu sekenanya. Menurutku nama "Nakita" adalah tokoh dari negeri Matahari melek yang dulu sempat jadi penjajah bangsa kita ini, aku berharap kelak anakku dapat memperjuangkan hidup seperti manusia sipit nan pendek itu, dengan Hirohitenya yang merubah etos kerja dan berpikir cepat tanpa kenal menyerah, tapi tidak termasuk Harakirinya loh..!. Lantas apabila kenyataan sekarang anak kita jadi malas?, seperti jauh panggang dari api dengan nama yang disandangnya, tentu bukan salah bunda mengandung tetapi salah aku yang menaruh binatang terkutuk itu.
Alasan nama "d'Satyavadin" adalah arti dari bahasa sansakerta yaitu, "Satya" artinya "berkata" dan "Vadin" (dibaca:wadin) artinya "jujur" yang ditulis dalam huruf valawa.
"'d" naaah.. ini inti dari arti nama anaku," 'd" disitu aku menirukan judul sebuah lagu klasik karya komponis orang Prancis yang namanya aku sudah lupa kawan !,seperti "d'Amor", "Marissa d' Luisha",instrumentnya sangat mendayu-dayu dan bisa meninabobokan. Itu artinya, anakku kelak dapat membahagiakan suami yang dicintainya. Tentang daerah asal "'d" tersebut dari prancis ? tentu semua orang tahu bagaimana dengan kisspranch itu, yang dapat melumpuhkan Adolp Hitler, Napoleon Bonapartte, Napoleon Bocasha, mereka adalah Dazal-dazal abad perang dunia ke II yang bertekuk lutut dibawah ketiak istrinya, bak anjing udik yang dituding majikannya, menggelepar-gelepar takmampu mengagahkan mukanya sambil mengibas-ibaskan ekornya pertanda ketaklukannya. Itulah harapan pada anakku kelak, seorang istri yang tak akan mampuh dilupakan suaminya. itulah sebabnya ibu-ibu yang badannya to mutch (saya tidak mengatakan gemuk loh..!, itu menyinggung perasaan ibu-ibu) untuk bersahabat dengan pil Yasmin, agar badan jadi ramping dan suami jadi nempel terus sehingga anda akan sulit untuk chatting.
Tentang alasan pemberian nama "Pikisi" !, Piksi...?? ya Piksi sajah !!, tidak pakai alasan.
Aku menerangkan kepada istriku panjang lebar, dan istriku diam saja tidak memperjuangkan gagasannya, mungkin karena dia malas melihat mulutku yang sudah berbuih-buih menerangkan, ibarat deterjen yang dituang di air tempayan.

AKU MENGUTUKI DIRIKU
Semburan warna diangkasa yang dilatari deburan troposfer mengukir langit, indah, lugas, jujur dan menakjubkan. Orang udik berkerumun membuang waktu yang tak mereka pahami untuk berbuat apalagi sore ini.
Adzan magrib berkumandang dilolongkan billal kepercayaan kampung kami, indah meresap hingga sampai sumsum tulang belakan, merambat kedalam hati tempat bercokolnya sang penggoda ulung "Om Iblis" laknattullah yang telah bermetamofosis menjadi darah yang mengalir disekujur tubuh manusia,suara adzan menyiramkan iar penawar demi menyadarkan umat Islam untuk mengingat hari setelah kematian kelak.
Orang-orang udik bergegas pergi ke surau untuk menunaikan shalat berjamaah dan mengaji, yang kelak akan jadi pegangan di akhirat dalam melintasi titian serambut dibelah tujuh, yang dibawahnya kobaran api neraka menyala-nyala.
Hingga selepas sholat isya di surau aku pulang kerumah, kudapati Istri dan anakku telah tertidur pulas. Aku duduk dikursi didekat mereka tertidur, sambil mengusap-usap kopeyah hitamku yang telah lusuh dan berlubang, kutancapkan pandanganku pada mereka, mataku nanar berkaca-kaca dan pandangan kosong jauh menerawang keawan dilangit ketujuh, dimana kitab kehidupan kami disimpan dalam genggaman sang penguasa jagat.
Takhenti-hentinya aku mengutuki diriku yang naif ini, dia bidadari-bidadariku (yang satu kecil, dan yang satunya lagi besar) telah menjadi korban kebodohanku. Dia ada karena aku terlampau berani menorehkan tinta pada kitab kehidupan di alam Lohmahpud dahulu, aku yang bersalah tapi mengapa pula kalian yang menanggungnya.
Anakku mewarisi sifat buruk dariku tanpa dia fahami, itu bukan salahmu Nak ! itu salahku. Istriku yang terlampau lelah mengurusi anak dan rumahtangga hingga badanya terasa remuk-redam, itu juga bukan salahmu sayang. Itu salahku, yang engkau pikul padahal tidak kau fahami.
Ya Alloh ya robbul'ijatti, janganlah engkau bebankan pada mereka atas dosa-dosaku dan kebodohanku yang padahal mereka tidak harus menanggungnya, bahagiakanlah mereka dunia dan akhirat, bimbinglah mereka kejalan yang enkau rid'oi, ammiiiinn.
Sampai larut malam aku terus mengutuki diriku, dan tak bosan-bosan aku terus mendo'akan bidadari-bidadariku hingga tak terasa lagi hari telah menjelang subuh.

Tamat.

Baca Selengkapnya...

Bagian II dari trilogi PUISI
Semuanya tentang Cinta...


RINDU


Adakah penawar rindu….
Lantai, meja, dinding…dingin membeku..
Diluar hujan….

Kesunyian menyergap jiwa…
Penjarakan aku dengan cinta…
Kepada siapa harus berkata..
Hati ini sudah mendua…

Teriakan itu pada langit..
Biarkan memantul ke sepenjuru…..
Hingga semua orang tahu…
Lain cita hinggapi kalbu….

Rindu memang milik kita…
Meski hanya memenuhi lorong-lorong dimensi…
Masa lalu…


Fuur : Ceu

Baca Selengkapnya...

Senin, Oktober 12, 2009

Tangkal Jambu

(Teti Fathiyah)

Masih seputar tangkal jambu… banyak sekali cerita .. dari mulai teterekelan jiga tarsan saat masa2 kecil, bari nyebur ka balong. Sebagai gambaran pohon jambu itu tumbuh di sisi kolam ikan yang panjang dahan nya bercabang cabang indah sampai menjulur ke kolam.. jadi kl lagi naik pohon jambu trus ada yang lagi ngojai wah kacipta sok aya nu ngintip nu keur teterekelan. Maklum lah anak2 kecil sok iseng pengen tau tea he he…dah ah tong diterskeun nu eta mah.
Sampai beranjak menjadi remaja ingusan tapi teu meler lhooo…dan bertambah teman karena sudah naek kelas tea ka smp, tangkal jambu ini penuh dengan kenangan. Teman,sahabat bahkan orang2 special pasti ingat kana tangkal jambu ini. Yang merasa punya memory pasti lagi senyum-senyum simpul mengingat masa2 itu. Bagi yang ga punya kenangan daripada bengong menebak2 ada apa gerangan mending ikutan baca aja deh ..he he.
Ternyata pohon jambu nih punya sejuta kenangan yang tak akan habis jika dituliskan.. Sekedar mengingatkan buat yang punya pengalaman.. saat itu yang namanya teti tuh masih polooos, culuun, imut imut (jangan bilang amit2 lho..) sampe2 dah smp juga ga rasa dia tuh msh sprt anak kecil yg polos. Bahkan saat temen2 mulai larak lirik nu kasep cenah iih da eta nu namina teti mah teu ngartos nu kumaha nu kasep teh. Tapiiii justru dialah yang punya banyak cerita. Maklum yang punya tangkal jambu tea he he..
Ini adalah kisah teman se geng .. yang bener2 sama kurus,mungil, tapi imut2 hitam jelek lagi he he kecuali wiwik. Walaupun berambut sedikit berlebih keritingnya, tapi dia putih bersih dan cantik.Cuma rambut aja yg jd bahan senyuman (padahalmah pengen ngakak )komo mun diliatin fotona pasti seusseurian (skrng mah engga kok,cantik kok) etamah dari kecil hingga sekarang emang pang geulisna. Pokokna nu janten bentang seueur nu naksir padahal mah nembe smp..yang naksir juga banyak bahkan sampai anak sma pun pada ngelirik dia. Ta pi sumpah wik kenapa kok dulu ga ngerasa iri ya sama wiwik yg cantik he he.. bahkan kami sebagai temannya bangga punya teman yg cantik juga banyak yang naksir .. jadi kami ikutan deh ngetop bak selebritis he he he..tapi kl disebutin satu satu siapa yg naksir wiwik waaah nanti ada yang protes deh berabe deh urusannya takut ah suaminya polisi ntar ditembak lagi he he... nah salah satunya suka curi2 pandang saat kami ngumpul di bawah pohon jambu itu.. dari kejauhan dia pandang,,pandang tertuju sama yang keriting tea. Kalau saaja si cowok itu ga cerita ke teti pasti sampai saat ini ga tahu kl dia naksir sm wiwik.. tapi sayang dia ga berani mengungkapkan keinginan dan rasanya kepada yang bersangkutan. Dia hanya berani dari kejauhan aja. Baginya cukup memandang dari jauh sudah lega hatinya.. menurutnya dia takut karena kami adalah sekelompok selebritis yang bukan kelasnya… ( padahal kami ga ngerasa gitu lho) .. tapi ya sudah lah salah sendiri kl nyesel karna ga ada keberanian ditolak ya he he.. nah ceritanya mulai dari wiwik ya.. (sok ngambek ge da tebih ieuh )
Namun lain yang menaksir lain lagi yang ditaksir… tanpa disebut namanya … si empat sekawan yang baru kelas satu smp nih punya cerita juga tong ngambek nya wiiik ini cerita kita semua kok yang mungkin jaman ayeuna mah disebut lebay he he..
Ada satu orang yang saat itu mungkin bagi kami menarik ya.. seorang anak 3 sma necis (sebuah sma yang nanti juga akan penuh cerita) sebenarnya dia bukan orang asing bagi kami. Dia sudah cukup kenal dengan kami.. namun karena kami anak perempuan yg memang gengsi kl hrs mengungkapkan kata naksir apalagi sama orangnya langsung yang jaman sekarang mah cewek juga suka nembak duluan he he. Beda jaman dulu mah penuh dengan pura2 padahal mah daek he he…dengan polosnya tiap minggu pagi abis subuh kami pura2 lari pagi lewatin rumah dia, berharap bisa memandang wajahnya yang menurut kami dulu bersahaja.. tapi kl inget sekarang mah amit amiiiiit he hee… tapi ya itulah pikiran anak ingusan.. melihat rumahnya saja sudah deg2an katanya.. apalgi kl dia keluar waaaaaah kami saling bisik bisik itu tuh kaluar aduh kumahanya bade nyarios naon mun pendak ah kita pura2 ga liat aja yuk … dengan ‘sok’ tidak peduli kami meneruskan acara lari pagi sampe pengkolan linggarjati.. saat balik lagi kami berharap ketemu lagi he he he.. dasar yang lagi pura2 tea.. sok lebay nya..dan .. haaay dia menyapa.. wah sontak aja hati kami semua deg deg an padahal yg naksir Cuma wiwik lho kami Cuma jadi ikutan deg2an. Wah rasanya disapa gitu aja rasanya berbunga2.. eeeh ga Cuma nyapa, dia juga ngajak ngobrol.. kami sebagai penonton yang mengawal yang sedang kasmaran jadi ikut sibuk berbasa basi menutupi rasa gundahnya hati wiwik..he he…bla bla bla.. kami pun ngobrol sejenak.. terakhir yang saya ingat dia bilang kamu tuh “caem “ sama wiwik padahal saat itu kami ga tau artinya apa..dengan msh menyisakan tanya kami pun pulang …
Sepanjang jalan kami bahas eeh artina caem teh naon sih.. teuing naon teu terang. Tapi rasa penasaran kami membuat kami terus membahasnya hingga sampailah kita di tempat paporit nyaeta tangkal jambu tea… sambil nerekel metikan jambu trus kami mengunyahnya dengan nikmat… emang jambunya enak sih… tak lepas dari bahasan caem tea.. tanpa pikiran apa2 dengan kepolosannya neng teti nih menunjukan kesungguhannya ingin Bantu mencari tahu.. Tapi dasar si culun tea yang belum punya kaisin tapi jiwa penolongnya dan solidaritasnya yang tinggi besoknya saat ketemu si kaka biasa kami menyebut si cowok itu. Si teti nan polos ini nyeletuk kaka kaka ari caem teh naon siiih… (kali saat itu si kaka ketawa dalam hati dengan terbahak bahak dan pengen bilang dasar budak leutik oooon he he) tapi si kaka menjawab dengan santainya” emang kunaon..” eta tuda kamari kaka nyarios kitu teh teu ngartos “oooh hoyong terang? Caem teh artinya cantik geuliis” mulut mungil ini pun mengucap oooooh dengan panjangnya.. kalo inget jaman dulu isiiin ku polosna he he..
Akhirnya datanglah saat yg ditunggu2. si kaka ini ngirim surat cintanya buat wiwik si cantik yang mempesona ini. Dengan gaya mak comblang teti pun memberikan surat itu kepada wiwik. Dan kami berempat membacanya…how wow.. wow.. isinya seperti yang ditunggu2..dia juga naksir sm wiwik. Tapi dasar anak ingusan ya.. dah datang yang diharapkan eeeh malah bingung naon nya jawabna.. kumaha yeuh mun pendak.. dah ah kepanjangan lagi kl dibahas.. seiring waktu berjalan walau belum ada jawaban kami dan si kaka pun biasa aja ngobrol ngaler ngidul…namun singkat cerita jadian deh tuh si kaka sm wiwik … tapi yang lucu ya.. kl si kaka itu janjian mau datang.. kebetulan markasnya memang di rumah teti..(mungkin kl di rumah wiwik sendiri takut diomelin he he..) yang walau rumahnya sederhana tapi sangat nyaman buat ngumpul2 eeeh 4 sekawan ini kompak bebersih rumah teti.. ada yang nyapu.. ngelap meja.. siapin minum (dalam pikiran teti waah lumayan deh kerjaan gue berkurang ada yg bantuin he he) pokokna kompak mendukung yg lagi kasmaran hanya tuk menyambut kedatangan si kaka ini.. uuuh siapa yang mau ngapel siapa yang sibuk he he kl sekarang pada mau engga ya disuruh nyapu ngepel..he he
Tapi dasar gaya pacaran jaman dulu ya yang pacaran siapa yang ngobrol siapa… kami tuh ikutan nimbrung ngobrol tanpa memberi kesempatan duduk berdua he he kali dalam hati wiwik iiih ngapain sih ikut2an he he.. tapi lama lama kami pun merasa ga enak hati dan tahu diri juga nih akhirnya kami tinggal juga.. dan mereka menuju tangkal jambu… tapi ga macem2 kok karena ada yang ngintipin pacaran lewat jendela ha ha ha… entah apa yang mereka bicarakan tapi kami ikut ketawa2 atau ngetawain ga tau deh..
Kl saja ada obie mesakh lewat pasti dah dibikinin lagu.. malu aku malu sama semut merah yang ada di pohon jambu di depan rumah teti…. Kumaha nya nynyina mun kitu… sok lah pang ngarangkeun…
Duuh masa mau diceritain semua.. jangan deh nanti ketahuan.. sok bae terusin ceritanya menurut keyakinan masing2… ( mau nyambung?)

Baca Selengkapnya...

Minggu, Oktober 11, 2009

MATAMU BICARA BANYAK

Matamu bicara banyak ketika sekilas kita bertemu
Tentang Rindu
Tentang Cinta
Tentang Sakit Hati

Lalu kenapa jadi gundah gulana
Setelah lama tidak berjumpa

Matamu bicara banyak ketika sekilas kita bertemu
Tentang Rindu
Tentang Cinta
Tentang Sakit Hati

Lalu kenapa tak jua bertemu
Sekedar untuk berbagi cerita

Salahkan waktu karena tidak mau berjalan mundur
Salahkan Takdir karena tidak mau persatukan kita

Sebab Hati selalu jujur berkata
Aku masih Cinta Padamu..

Fuur : Ceu

Baca Selengkapnya...

POSTING TERBARU

KOMENTAR TERBARU

  © Free Blogger Templates Blogger Theme by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP